Fakta Hidup di Zaman Kertas : Jeneng atau Jenang?

By : Beni Nur Cahyadi, S.Pd.I., M.Pd., M.H.
SMK Pancasila 3 Baturetno

BANYAK manusia yang hidup bergantung pada kertas. Hampir setiap hari kertas digunakan disekeliling kita. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa semua mengkonsumsi kertas dengan berbagai keperluan. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa produksi dan konsumsi kertas semakin meningkat dari tahun ke tahun. Perusahaan yang bergerak dibidang penyedia kertas kewalahan untuk memenuhi hal itu.

Akibatnya, perusahaan terus berusaha untuk memperluas lahan usaha serta memikirkan teknologi terbarukan untuk memenuhi permintaan pasar akan kertas. Disisi lain sudah dimulai upaya me-nirkertas-kan (paperless) semua hal yang semula membutuhkan kertas. Teknologi saat ini sudah memungkinkan tercapainya hal ini. Sejak beberapa tahun yang lalu sudah dimulai bahkan di dunia pendidikan sudah dimulai dengan raport paperless dan e-book.

Dari sisi nilai, kertas ada yang bernilai biasa dan ada yang bernilai luar biasa. Saking luar biasanya seakan hidup ini bergantung pada selembar kertas ini, salah satunya ijazah.

Saya berusaha berada di tengah-tengah pro-kontra tentang pentingnya ijazah dalam kehidupan dalam upaya salah satunya adalah mencapai kesuksesan hidup

Marilah kita bahas dalam falsafah Jawa. Kita gunakan istilah jeneng dan dan jenangJeneng dalam bahasa Jawa berarti nama, jabatan dan pekerjaan. Sedangkan jenang dalam bahasa Jawa artinya bubur makanan, bisa bermakna pula sebagai hasil yang diperoleh. Jenang adalah makanan yang (biasanya) dibuat pada waktu tertentu untuk momen istimewa seperti hajat pernikahan ataupun lebaran. Karena mengiringi dibuat untuk momen istimewa maka menjadikan jenang itu sebagai makanan istimewa. Untuk hadirnya makanan berupa jenang ini diperlukan bahan-bahan terbaik dan proses serta waktu yang panjang. Itulah mengapa dalam bahasan ini jenang digunakan untuk menggambarkan hasil. Jenang sendiri dikenal pula sebagai dodol (Betawi, Sunda).

Kembali ke persoalan jeneng dan jenang. Jelaslah bahwa kedua hal ini sangat penting bagi seseorang. Ia perlu “punya nama” sebagai kekuatan jati diri, disamping itu iapun perlu membuktikan hasil kerja kerasnya dalam bentuk materiil. Bentuk keabsahan kepemilikan diwujudkan dalam selembar kertas yang dikeluarkan instansi resmi yang terkait.

Di zaman ini tentu kita banyak melihat orang yg sukses secara financial. Jenang sudah ia miliki. Untuk memperoleh jeneng maka ia mengambil peran yang lain, nyaleg, misalnya. Contoh yang lain, sebuah sepeda motor keluaran terbaru dengan segala fitur kecanggihan masa kini belum dapat digunakan di jalan raya bila belum dilengkapi dengan BPKB dan STNK. Sebaliknya bila sebuah sepeda motor akan dijual kembali namun tidak dilengkapi kedua dokumen tersebut maka harganya pasti rendah, bahkan mungkin tidak ada yang mau membeli karena tidak mau terkena tuduhan sebagai penadah.

Seseorang yang mengajukan pinjaman dengan jaminan tanah dan kendaraan maka yang diajukan ke kreditor pasti dokumennya. Demikian pula dengan riwayat pendidikan kita. Setelah menyelesaikan pendidikan baik formal maupun non formal kita akan mendapat ijazah ataupun sertifikat. Tidak pelak lagi dokumen terpenting setelah akad nikahpun dalam bentuk kertas (saat ini diganti dengan kartu).

Berkas-berkas penting mulai dari akte kelahiran, ijazah, surat nikah, pasport, piagam, sertifikat, KK, surat keterangan kesehatan, surat keterangan kelakuan baik, NPWP, BPKB, akta kepemilikan tanah atau rumah, buku tabungan, dan berbagai berkas penting lainnya tentunya didapatkan dengan tidak mudah bahkan untuk ijazah atau sertifikat kita mendapatkannya setelah perjuangan belajar beberapa tahun.

Dokumen tersebut memiliki arti besar bagi anda. Kalau boleh saya gegabah, dokumen-dokumen penting itu adalah harta karun bagi anda. Sikap dan cara anda menyimpannya menentukan besarnya arti harta karun tersebut bagi anda. Ada yang menyimpannya dengan sangat baik, namun tak dapat kita pungkiri bahwa tak sedikit dari kita yang justru menganggapnya remeh sehingga menyimpannya di sembarangan tempat dan terkesan tak lagi bermakna besar seperti dulunya saat kita berupaya mendapatkannya. Fakta-fakta ini lah mau tidak mau kita harus mengakui memang kita ini hidup dizaman kertas. Jeneng dan jenang, keduanya dibutuhkan.[]

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia