DPP AGPAII GELAR PERAYAAN TAHUN BARU ISLAM 1444 H: JADIKAN MASJID SEKOLAH SEBAGAI LAB. PENDIDIKAN KARAKTER

Jakarta_Dewan Pimpinan Pusat AGPAII menggelar Perayaan Tahun Baru Islam 1444 H tingkat Nasional. Acara yang diselenggarakan secara daring ini diikuti sekitar 500an guru PAI dari seluruh Indonesia, Ahad malam (31/07/2022).

Hadir dalam acara ini Ketua Umum DPP AGPAII Dr. Mahnan Marbawi, MA. beserta para pengurus DPP, Ketua DPW, Ketua DPD dan guru-guru PAI. Sementara uraian hikmah disampaikan oleh Dr. Moh. Kosim, MA., dosen UIN Imam Bonjol Padang.

Sukseskan Kongres IV AGPAII dengan 1 juta quote Pancasila
klik https://linktr.ee/panitiakongres

Dalam tausyiahnya, dosen yang mengawali karier sebagai guru PAI di SMP ini mengambil tema Edukasi Hijrah: Memajukan Peradaban NKRI dari Sekolah.

Mengutip pendapat Dr. Said Ramadhan al Buthy, Kosim menyampaikan bahwa hikmah tahun baru Hijriyah tidak lepas dari keberhasilan hijrah Nabi saw ke Madinah.
“Kesuksesan hijrah Nabi dilandasi oleh tiga hal, yaitu pembangunan masjid, persaudaraan antar muslim dan Piagam Madinah,” demikian ia memantik perbincangan.

Sebagian peserta perayaan Tahun baru Hijriyah 

Pertama, faktor pembangunan masjid. Kosim menyitir pendapat Prof. Quraish Shihab, bahwa masjid pada masa Nabi memiliki 10 fungsi. Pertama sebagai tempat ibadah, selanjutnya sebagai tempat konsultasi dan komunikasi, pendidikan, santunan sosial, latihan militer dan persiapan alat-alatnya, pengobatan korban perang, perdamaian dan pengadilan sengketa, aula dan tempat menerima tamu, menawan tahanan perang, dan pusat pembelaan atau penerangan agama.

Kedua, persaudaraan antar muslim. Menurutnya awal berimannya kaum Muhajirin dan Ansor memiliki perbedaan mendasar. Pada saat kaum Muhajirin beriman mereka bersama bahkan diseru langsung oleh Nabi saw. Namun ketika kaum Anshar beriman mereka bahkan belum pernah bertemu dengan Nabi saw. Hal ini menandakan bahwa kaum Anshar memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap Islam.
Hal ini ditunjukkan pada saat kaum Muhajirin hijrah ke Madinah. Mereka yang datang hanya dengan pakaian yang melekat di badan dan harta seadanya diterima dengan tangan terbuka oleh kaum Anshar, bahkan kaum Anshar rela memberikan sebagian hartanya kepada kaum Muhajirin. Kecintaan kepada iman Islam ditunjukkan dengan mencintai orang-orang yang memiliki keimanan yang sama.

Ketiga, Piagam Madinah. Naskah ini dikatakan sebagai dokumen tertulis pertama yang berisi perjanjian hidup berdampingan secara damai di masyarakat majemuk. Dokumen yang berisi 47 pasal ini memuat hak dan kewajiban penduduk Madinah yang memiliki keragaman suku dan agama. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi saw menjunjung tinggi hak asasi dan persatuan.

Dukung Petisi Pemda usulkan kebutuhan guru agama klik  https://www.change.org/DaruratGuruAgama

Memetik hikmah tiga faktor besar sukses hijrah tersebut, Kosim menyerukan kepada guru-guru PAI untuk menjadikan masjid sekolah sebagai laboratorium pendidikan karakter.
“Apalagi pada Kurikulum Merdeka, pendidikan karakter dikerucutkan menjadi Profil Pelajar Pancasila. Warnailah dengan pendidikan karakter muslim,” seru Kosim.

Masjid sekolah dapat dijadikan sebagai tempat pembinaan persaudaraan siswa dengan berbagai perbedaannya. Sekaligus pembinaan untuk menjunjung tinggi hak asasi, kecintaan dan persatuan NKRI. Demikian pungkasnya.[]

 

 

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia