Dukungan Ekosistem terhadap Potensi Guru

By. Beni Nur Cahyadi. S.Pd.I.,M.Pd.,M.H.
SMK Pancasila 3 Baturetno

Peran guru sangat sering di sebut dalam mengukur tinggi rendahnya kualitas pendidikan dan bahkan sering menjadi kambing hitam penyebab rendah nya kualitas pendidikan bagi sebagian pengamat guru didorong mengubah sistem pembelajarannya, sehingga suasana belajar menjadi nyaman dan menyenangkan. Merdeka Belajar juga membuat gebrakan penilaian dalam kemampuan minimum, meliputi literasi, numerasi, dan survei karakter strategi dalam meningkatkan kualitas sekolah, hal ini penting dalam mendobrak inovasi dalam sistem pembelajaran di tengah pandemi. Langkah yang dilakukan antara lain dengan mempersiapkan berbagai fasilitas sampai kesiapan guru dalam mendukung sistem pembelajaran.

Seorang guru harus mampu mengembangkan pemikiran yang kreatif dan inovatif dalam sebuah pembelajaran. Selain itu, guru juga harus mampu memahami perkembangan psikologis dari peserta didik dan dapat mengembangkan kemampuan komunikasi dengan peserta didik. Guru juga harus memiliki wawasan pengetahuan pemahaman dan sikap profesional untuk memecahkan sebuah masalah, dan mampu mengembangkan profesi pendidikan yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Terdapat 3 keterampilan yang harus dimiliki guru yaitu learning innovation skill, information media and technology skill dan life and career skill (Hosnan, 2014).

Guru adalah suatu profesi yang memang diamanahkan, diwajibkan, serta berkemampuan untuk mendidik siswa, secara formal. Diperlukan tidak sedikit waktu untuk menjadi seorang guru. Segudang potensi dan wawasan didaktik metodik yang telah diterimanya dalam proses pembentukannya menjadi guru. Apalagi dengan aturan-aturan yang semakin mengharuskan guru lebih meningkatkan kemampuannya, maka mustahil guru menjalankan profesinya seperti “patung”. Profesi yang paling memungkinkan dan diakui untuk berinovasi dan berkreasi adalah guru. Alasan-alasan inilah yang harus menjadi pemikiran seimbang oleh orang-orang yang selalu memandang guru seperti bukan guru tidak serta merta menyalahkan guru.

Bagaikan penonton atau komentator sepak bola yang merasa lebih pintar bermain bola dibanding pemain bola sungguhan. Demikian pula para pengkritisi guru atau pengamat pendidikan yang tak terjun langsung ke lapangan yang telah merasa pintar dengan hanya mengumbar kelemahan guru yang nyata tanpa memberikan solusi pemecahannya. Persoalan yang dihadapi guru di lapangan lebih liar dan kompleka dibanding bola yang dihadapi pesepak bola di lapangan hijau. Lebih ironis lagi jika pemecahan permasalahan guru hanya mengeksploitasi atau menerapkan manejeman ancaman yang justru semakin memperparah permasalahan yang ada. Oleh karena itu, kebijakan dan kebiasaan yang selalu menyalahkan guru harus diubah.

Bagaimanapun lemah kemampuan seorang guru, masih lebih baik dalam mendidik dan mengajar siswa dibanding yang bukan guru, bagaimanapun unggulnya orang tersebut. Oleh karena itu, seorang yang non guru jangan sekali-kali mengumbar “tantangan” dan kritikan pedas untuk bersaing dengan guru dalam aktifitas proses pembelajaran di kelas. Mungkin seorang non guru lebih unggul dibanding guru dalam proses pembelajaran dua jam pertama, tetapi tak mungkin unggul untuk dua minggu di kelas yang sama. Belum lagi kalau dua bulan, apalagi dua tahun. Disinilah inti permasalahannya. Bahwa guru tidak dapat dilihat sekilas pandang menilai kinerjanya, tetapi dibutuhkan waktu dan penyelaman kondisi di lapangan yang sebenarnya.

Setiap guru dapat dipastikan mempunyai potensi didaktik metodik yang khas melebihi yang bukan guru. Kemampuan guru tersebut berbeda pengaplikasiannya di lapangan untuk setiap guru. Perbedaannya ada dua macam, yakni perbedaan dalam kualitas penyaluran dan perbedaan dalam kuantitasnya. Hambatan dalam membendung kualitas dan kuantitas kemampuan guru merupakan masalah yang sebenarnya. Oleh karena itu, perlu dikenal betul penghambatnya tersebut sehingga kemampuan guru dapat tersalurkan dengan maksimal.

Kepiawaian seorang guru yang menampakkan dirinya sebagai guru tulen jika potensi yang dimilikinya tadi dapat tersalurkan dengan baik. Penyaluran potensi guru dapat terlihat secara umum hanya di kelas dan yang lebih luas di sekolah tempatnya mengajar. Tersalur tidaknya potensi guru, permasalahannya hanya di lingkup sekolah saja. Jika sekolah “terbuka” terhadap kinerja dan kreatifitas guru, maka yakinlah itu akan muncul. Tetapi sebaliknya, jika sekolah mau apa adanya saja, maka betapa pun hebatnya guru, akan terhambat penyaluran kreatifitasnya. Guru sebenarnya merupakan profesi pembaharu, yakni selalu mempunyai kemampuan untuk berbuat dan mencipta yang baru dan berbeda. Jika sekolah sudah ideal dalam penyaluran potensi guru, maka tak ada sekolah yang statis dalam kreatifitasnya.

Kesimpulannya, bahwa tinggi rendahnya kualitas guru dalam kinerja dan kreatifitasnya tergantung ekosistem dimana guru itu bertugas .Aura sekolah yang mampu “memantik api” kreatifitas guru akan terlihat lebih nampak dibanding sekolah yang “menyembunyikan pemantik apinya” tersebut. Oleh karena itu, tulisan ini juga menyarankan agar energi dalam memikirkan kualitas guru sebagian dialihkan kepada ekosistem pendukung lainya . Bagaimana manajemen ekosistem yang Menjadi pelumas yang baik, khususnya dalam melicinkan gerak kinerja dan kreatifitas tinggi guru-gurunya sehingga tujuan dan garis besar pendidikan yang ingin di capai agar mutu pendidikan Indonesia maju dan sejajar dengan negara negara maju di dunia.[]

Featured picture sumber : https://national.tempo.co

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia