HATI DENGAN HATI-HATI

Herimirhan, S.Ag Guru PAI SMP Lazuardi Haura Global Compassionate
Pengurus DPW AGPAII Provinsi.Lampung

Seringkali kita mendengar ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan suasana hati. Misalnya, yang masih segar dalam benak kita bagaimana kang Emil (Ridwan Kamil) mencurahkan isi hati pada saat dirundung musibah harus kehilangan putra tercinta ananda Emmeril Kahn Mumtadz. Kang Emil mengungkapkan bahwa ia sedang berusaha menata hati. Sungguh tidaklah mudah pada saat harus kehilangan putera pertama yang ia sayangi dan banggakan, tetapi Kang Emil dan Teh Lia harus ikhlas merelakan.
“Ini sudah ketetapan Allah”, demikian ujarnya.

Dari peristiwa ini saya belajar. Mereka yang datang duluan belum tentu pergi duluan, begitu juga yang datang belakangan belum tentu pergi belakangan. Semua yang terjadi pada makhluk Allah SWT-lah yang mengatur, sudah tertulis di Lauh Mahfudz.
“Saya kira kita semua pada saatnya akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini, kehilangan orang yang kita cintai, sekarang jadwalnya sedang tiba kepada kami sekeluarga,” tutur Kang Emil.

Dukung petisi DORONG PEMDA AJUKAN USULAN KEBUTUHAN GURU AGAMA klik https://chng.it/y876867549

Begitu juga saat moment jasad putranya ditemukan kang Emil kembali membagikan sebuah reels yang berisi ungkapan hatinya. Dalam reelsnya, tertulis ungkapan “ALHAMDULILLAH ALLAH SWT… Akhirnya Allah SWT memberikan kesempatan saya untuk kembali memeluk, membelai, dan memandikan anak saya sesuai syariat Islam, juga mengadzankan dengan sempurna di telinganya persis seperti saat Eril lahir”. Demikian ungkapan hati beliau yang paling dalam sontak  menuai banyak komentar dukungan dari netizen.

Tempat peristirahatan terakhir alm Eril. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah.
(Sumber: pikiran-rakyat.com)

Pada sudut pandang Al Quran, hati (qaalb) merupakan perangkat yang dapat menempatkan manusia kepada baik dan buruknya suatu tingkah laku yang dikerjakannya. Dalam Al Quran banyak menempatkan kata hati dengan jiwa, yang maksud tujuannya juga merupakan sebagai pengendali (controller) kehidupan manusia dalam bertingkah laku. Keadaan hati manusia digambarkan dalam beberapa kategori. Pertama, hati yang tenteram, yakni lantaran orang itu beriman dan selalu mengingat Allah SWT. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’d: 28). Kedua, Hati yang dimuliakan dengan rasa takut. Sebagaimana firman Allah dalam Qs, Al Anfal 2 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal: Ketiga, Hati lembut yang bersih karena seseorang selalu beribadah dengan niat tulus mencari ridha Allah yang senantiasa mengikuti petunjuk dari Alquran. “Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk.” (QS Az Zumar 23). Keempat, Hati yang tunduk pada kebenaran. “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwa (Alquran) itu benar dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus” (QS Al Hajj 54). Kelima, hati yang berpenyakit. Ini disebabkan kebiasaan berdusta dari orang yang memilikinya. Mereka adalah orang-orang munafik, yang menampakkan kesalehan di hadapan orang beriman dan menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Siksaan yang pedih merupakan balasan bagi mereka (QS al-Baqarah: 10). Keenam,  hati yang gelap dan jelek disebabkan keengganan menerima kebenaran Ilahi. Hati ini diilustrasikan seperti kerasnya batu, bahkan lebih keras dari batu (QS al-baqarah:74). Demikian pula, hati yang takabur karena menolak keesaan Allah (QS an-Nahl:22).

Mengutip hadis riwayat dari Al Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Ingatlah ,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad ,ia adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599) Sementara itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengungkapkan, “Adapun makna ketakwaan hati terhadap Allah adalah penghambaan hati yang hanya tertuju kepadaNya dengan setinggi-tingginya penghambaan kepadaNya, dan penghambaan hati ini adalah dengan memberikan setinggi-tingginya kecintaan ,sikap tunduk dan keikhlasan, inilah agama Ibrahim al khalil ‘alaihissalaam, dan ini semua merupakan penjelasan bahwa ibadah hati adalah inti dari semua ibadah.

Manusia merupakan makhluk yang mulia (noble creature) di muka bumi. Sang pencipta, Allah SWT telah mengaruniakan akal, nafsu, dan hati nurani pada diri manusia, serta derajatnya ditinggikan melebihi makhluk ciptaan Allah lainnya. Berbeda dengan Malaikat yang selalu patuh, manusia diberikan kebebasan untuk memilih jalannya sendiri. Antara yang benar dan buruk, keduanya dapat dibedakan bila seseorang memiliki hati nurani (qalb) yang murni. Sebagai muslim untuk meraih ketenangan jiwa adalah bagaimana kita selalu kembali kepada Allah yang mengajarkan banyak hal untuk manusia bisa meraih cara membuat hati ikhlas, tenang, dan hidup bahagia menurut islam. Ibadah yang diperintahkan Allah bukan semata-mata untuk menunjukan ketaqwaan hamba kepada Rabbnya, namun sebagai obat bagi kegelisahan batin dari segala hiruk-pikuk dunia. Begitulah Maha Suci Allah dan Maha Bijaksana. Sebagaimana Allah berfirman dalam Alquran: “yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi menjadi tentram.” (QS. AR Ra’d ayat 28).

Menata hati dengan hat-hati merupakan daya dan upaya untuk meraih kebahagiaan dan ketentraman dunia akherat. mulai sekarang, alangkah baiknya kita terus memperbaiki kualitas hati nurani (qalb) supaya terhindar dari segala noda dan dosa. Jika tidak bisa meninggalkan semua keburukan, paling tidak kita tidak mengerjakan semua keburukan. Dan jika tidak bisa berbuat semua kebaikan, paling tidak kita tidak meninggalkan  semua kebaikan yang ada. Oleh sebab itu, mari posisikan hati kita pada level qalbun salim, atau hati yang sehat.

Hati yang sehat berarti hati yang selalu peka pada bagian-bagian kebaikan dalam hidup, selalu bersegera berbuat baik jika kebaikan ada di depan matanya, bahkan jika dibacakan saja al-Quran, maka akan tergetar hatinya, serta bertambah keimanannya. Jangan sampai hati kita terjebak dalam hati yang sakit (Qalb Mariid) terlebih lagi pada (Qalb Mayyid) hati yang mati Nauzubillah. []

#saveguruagama

Featured image by freepik.com

 

 

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia