IBADAH HAJI DAN KURBAN ANTARA TRADISI DAN RITUALITAS KEAGAMAAN

Herimirhan, S.Ag
Guru PAI SMP Lazuardi Haura Global Compassionate
Pengurus DPW AGPAII Provinsi.Lampung

Menelisik dinamika yang sedang berlangsung pada saat memasuki bulan Dzulaidah dan Dzulhijjah tahun 2022. Media masa dan elektronik mulai ramai dengan pemberitaan seputar persiapan pelaksanaan ibadah haji. Sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Haji 1443H/2022M Beliau menyampaikan “kecepatan dan kecermatan dalam persiapan penyelenggaraan haji harus dilakukan, mengingat ini adalah kali pertama Indonesia memberangkatkan jemaah haji pada masa pandemi. Pelaksanaan Haji saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejak beberapa hari lalu kita sudah bersusah payah untuk mendapatkan kuota haji, kali ini kita harus bersusah payah agar pelaksanaan haji bisa berjalan dengan baik dan lancar,” ujar Menag.

Dalam terminologi ajaran Islam, ritual dan tradisi ibadah haji merupakan aktifitas kunjungan menuju baitullah dan tempat-tempat syi’ar keagamaan yang lain, pada yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, sebagai manifestasi dari bentuk-bentuk ibadah tertentu karena Allah SWT. Bentuk ibadah ini dilakukan mulai dari bulan Syawwal, Dzulqaidah, dan puncaknya Dzulhijjah. Prihal ini tidak hanya dikenal dalam syariat Muhammad SAW, melainkan telah dikenal lama dalam ajaran agama yang dibawa para nabi dahulu. Syariat ini dikumandangkan dengan tegas oleh Nabi Ibrahim AS, segera setelah ia bersama putranya, Ismail, membangun kembali Baitullah yang rusak dilanda banjir Nabi Nuh, sebagaimana diceritakan dalam firmanNya: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Surat al-Hajj: 27)

Ibadah haji bukanlah murni semata sebagai ibadah mahdhah kepada Allah SWT, tetapi juga merupakan proyeksi pengenangan dan rekonstruksi sejarah dari peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh para pendahulu kita, Adam, Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar,  dengan setting lokasi di Kota Mekah Almukarramah.  Kawasan Kota Mekah tentu bukan tanpa alasan sebagai lokasi ibadah haji, tetapi mengandung rahasia besar, latar belakang, hikmah, dan tujuan penting. Mekkah adalah suatu daerah yang terletak di tengah-tengah jazirah Arabia yang  memiliki kontruksi perbukitan terjal dan sebagian besar padang pasir tandus dan gersang. Tidak dapat tumbuh atau ditanami sesuatu tumbuhan yang layak dijadikan makanan manusia. Makanan pokok jenis nabati sulit, kalau tidak dikatakan mustahil, ditemukan di sana. Karena itu, ketika Nabi Ibrahim atas perintah Allah menempatkan putranya, Ismail, dan Siti Hajar di sana, ia memohon kepada Allah agar kawasan itu menjadi subur, sehingga para penduduk disana nanti dapat bertahan hidup.

Dinamika tersebut juga ditegaskan dalam al-Qur’an:  “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Surat Ibrahim: 37) Allah SWT menceritakan  doa Nabi Ibrahim dalam penggalan ayat berikut ini: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian… ” (al-Baqarah: 126)

Salah satu tradisi lainnya yang dapat kita rasakan dan alami dari kisah Nabi Ibrahim yang sekarang kita ikuti adalah tradisi berkurban. Sebenarnya tradisi berkurban ini bisa dilacak sampai ke belakang jauh sebelum Nabi Ibrahim, yaitu tepatnya pada kisah Habil-Qabil, putra Nabi Adam. Al-Qur’an mengisahkan:“Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mem­persembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 27).

Dalam kitab Tafsir Ibn Katsir dikisahkan bahwa Habil seorang peternak dan mengurbankan domba gemuk yang sehat. Sedangkan Qabil seorang petani yang menyerahkan gandumnya tapi hanya memberi yang jelek saja, bukan gandum terbaik. Itu sebabnya domba Habil diterima, dan gandum Qabil ditolak. Menurut keterangan lain dalam kitab Tafsir Thabari, domba milik Habil ini disimpan di surga, dan domba inilah kelak yang dipakai untuk menggantikan Nabi Ismail saat hendak dikurbankan oleh Nabi Ibrahim.

Itulah sebabnya ajaran Islam menganjurkan agar hewan-hewan tersebut merupakan hewan pilihan. Hewan yang sehat dan gemuk yang disukai orang. Bukan hewan cacat, sakit atau kurus yang tak layak dimakan, hatta si pemberinya pun tidak mau memakannya. Yang tulus berkurban akan memberikan yang terbaik. Begitulah hukum  alam ini. Tengoklah bagaimana pengorbanan ibu kepada anaknya. Ketulusan melahirkan persembahan terbaik. Begitu pula kurban yang kita hendak berikan kepada Allah SWT.

Anjuran demikian bukan berarti Allah memerlukan yang baik-baik untuk diriNya sendiri. Sama sekali Allah tidak memerlukannya. Tetapi semua itu demi kepentingan manusia sendiri, terutama kaum fakir miskin sebagai pihak yang berhak menerimanya. Maka, menjadi penting sekali firman Allah di bawah ini: “Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-Hajj : 37).

Jika kita kembali kepada kisah masa jahiliah orang Arab menumpahkan darah hewan kurban mereka ke Baitullah, dan mempersembahkan juga daging hewan kurban mereka di Baitullah. Para sahabat yang merasa lebih berhak atas Baitullah menganggap mereka juga lebih berhak melakukan tradisi itu di Baitullah (Ka’bah). Lantas, turunlah firman Allah di atas yang memutuskan benang merah tradisi persembahan darah berabad-abad sebelumnya: Allah tidak membutuhkan darah dan juga daging hewan kurban kalian! Itulah asbabun nuzul surat al-Hajj ayat 37 di atas. Tidak perlu menumpahkan darah hewan ke Ka’bah. Bahkan daging qurban tidak pula dipersembahkan sebagai “persembahan”, melainkan dibagikan kepada fakir miskin. Muatan teologis yang tegas, dibalut dengan kandungan sosial yang bernas. Kurban itu adalah simbol ujian ketakwaan. Takwa itulah yang akan mencapai keridhaan Allah, bukan darah dan daging hewan.

Dan hal lain, bukan hanya darah dan daging yang tidak Allah SWT butuhkan.  Zakat, Infaq, Sadaqah, Salat, Puasa dan haji kita. Bahkan keimanan dan keislaman kita sekalipun. Kitalah yang membutuhkan  Allah SWT. Semua ritual dan tradisi pada hakekatnya kembali manfaatnya untuk diri kita. Kitalah yang lemah. Kitalah yang membutuhkan asupan ibadah.

Allah sama sekali tidak akan berkurang sedikit pun keagunganNya kalau tak ada manusia yang menyembahNya, dan tak bertambah sediki tpun kalau semua penduduk bumi menyembahNya. Maka, tidak mungkin kita bisa menukarkan amal ibadah kita dengan keridhaanNya.

Begitulah bagaimana Islam menganjurkan kita untuk melanjutkan tradisi dan ritual baik yang dilakukan orang-orang saleh sebelum kita. Pada saat yang sama, dalam tradisi yang baik itu sepanjang sejarah peradaban telah terjadi berbagai penyimpangan ritual maupun pengaburan makna, maka syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW memilah dan memilih mana tradisi yang harus kita lanjutkan dan mana yang harus kita benahi.

Dalam konteks kearifan lokal ketika Kanjeng Sunan Kudus melarang warga Kudus untuk menyembelih sapi. Larangan menyembelih sapi oleh Sunan Kudus pada saat itu sangat beralasan. Pada awal datangnya Islam di Kudus sebagian besar masyarakat Kudus masih memeluk agama Hindu dan sebagian lainnya beragama Budha. Dalam kepercayaan umat Hindu, sapi adalah binatang yang sangat dihormati dan dimuliakan.

Meski dalam Islam menyembelih sapi adalah hal yang dihalalkan, tapi untuk menjaga perasaan umat Hindu yang tinggal di Kudus saat itu dan menghindari pertumpahan darah antar-umat beragama, Sunan Kudus melarang masyarakat Kudus menyembelih sapi saat Idul Adha. Terlebih isu agama adalah isu yang paling rentan memicu pertikaian antar-umat beragama.

Apa yang dilakukan oleh ulama Nusantara itu persis mengikuti metode dakwah yang digariskan oleh al-Qur’an: melanjutkan tradisi yang baik dari para orang baik sebelum kita, pada saat yang sama memilah-milah mana tradisi yang harus dibenahi dan didakwahi dengan lemah lembut, dan mana yang nyata-nyata harus ditinggalkan, dan bisa juga mana hal-hal baru yang lebih baik yang bisa kita pelajari dan kita amalkan.

“Barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam tradisi yang baik, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengkutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikitpun.” (HR Muslim). []

Featured image disediakan oleh pajakonline.com

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia