KOMITMEN KEBANGSAAN DAN MODERASI BERAGAMA

Komitmen kebangsaan kita memiliki sejarah yang sangat panjang. Komitmen  bangsa ini telah dimulai jauh ribuan tahun yang lalu, sejarah Nusantara dengan bentang alam dengan ragam budaya dan bahasanya. Nusantara yang berhasil dipersatukan oleh Sriwijaya selama 600 tahun dan dilanjutkan oleh Majapahit yang kurang beruntung karena hanya berhasil mengawal kesatuan dan stabilitas seluruh kawasan Nusantara selama 200 tahun. Sampai pada situasi bangsa-bangsa Eropa menjelajahi lautan dan akhirnya menemukan bentang wilayah  yang bagi mereka jelmaan surga dunia, tumpah darah kita. Bagaimana tidak, di sini mereka menemukan kekayaan melimpah, komoditas yang sangat mereka butuhkan namun tidak mungkin dihasilkan di negeri mereka sendiri yaitu rempah-rempah. Sejak saat itulah mimpi buruk yang disebut penjajahan, imperialisme, kolonialisme mulai menyergap. Penduduk Nusantara dipaksa menanam dan  menyerahkan hasil buminya kepada saudagar-saudagar Eropa. Beratus tahun di bawah kooptasi dan penjajahan lambat laun menggugah kesadaran dan mencoba bangkit melawan. Kehendak merdeka lepas dari penjajahan itu sekaligus menimbulkan keinsyafan bahwa tidak mungkin suku-suku bangsa (Minang, Jawa, Minahasa, Banjar dan suku lainnya) berjuang sendiri-sendiri. Harga diri yang terluka dan perasaan senasib sepenanggungan akhirnya menggelorakan semangat untuk bersama-sama membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Cita-cita kebebasan dan kemerdekaan menumbuhkan rasa persatuan, kesatuan dalam perjuangan, kesatuan tujuan di antara kelompok-kelompok suku bangsa yang kemudian melahirkan tekad bersama untuk menjadi bangsa yang lebih besar tanpa sekat etnis, budaya maupun bahasa. Tekad bersama tersebut melahirkan Sumpah Pemuda. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. Hingga pada suatu hari baik bulan baik, Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Setelah pernyataan politik bahwa bangsa kita merdeka dari penjajahan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan terus berlangsung baik dengan jalan mengangkat senjata maupun diplomasi. Peran para ulama dan tokoh-tokoh agama sangat besar dalam perjuangan tersebut.

Indonesia sangat beruntung karena memiliki umat beragama yang tidak memaksakan agamanya menjadi dasar negara. Lebih-lebih umat Islam yang mayoritas, tidak serta merta memaksakan Islam sebagai dasar negara bangsa ini. Azaz Pancasila dan Bhinneka tunggal ika telah menjadi kesepakatan bersama. Namun selama ini kita hanya mengenal semboyan Bhinneka tunggal ika dengan terjemahan meskipun berbeda-beda tetap satu juga. Tidak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya semboyan itu merupakan penggalan dari selarik kata dalam Sutasoma “Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa” dalam terjemahan sangat bebasnya  adalah apapun agama/ keyakinan (atau cara hidup)-nya yang bermacam-macam itu, tetap satu juga (karena) tidak ada dharma yang mendua. Mungkin akan muncul pertanyaan dalam benak masing-masing kita.

“Lantas apa perbedaan antara keduanya?” Jawabannya adalah, tidak ada yang harus dibedakan  karena selarik kata tersebut tak semestinya dipenggal begitu saja sekedar sebagai simbol atau semboyan belaka.

Pemahaman yang mendalam terhadap makna dharma akan membawa kita pada kesadaran bahwa sejatinya esensi kehidupan kita di dunia ini adalah “hidup bertuhan”. Menjalani kehidupan dengan mengejawantahkan nilai-nilai ketuhanan dengan sepenuh kesadaran bahwa semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Sehingga akhlak, moral manusia dalam bergaul dengan sesamanya, dengan alam semesta hanya berangkat dari keimanan pada Tuhan dan bermuara pada harapan atas rida Tuhan, tiada lain, tiada mendua. Selarik kata tersebut sudah semestinya menjadi tak lagi hanya dijadikan simbol semata, namun sebagai strategi mengembalikan kejayaan Nusantara yang berhasil menyatukan keragaman dengan sikap mental penduduknya yang toleran berlandaskan ketuhanan yang maha esa demi terwujudnya kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kerukunan antarumat beragama telah lama terjalin. Warga lintas agama bersilaturahmi dengan umat Krstiani pada Hari Natal di dusun Thekelan, Jateng. (Sumber: mediaindonesia.com)

Menilik sejarah panjang komitmen kebangsaan di Nusantara ini, muncul pertanyaan, bagaimanakah muslim semakin memahami serta meneguhkan komitmen kebangsaannya   di tengah keragaman dalam konteks kehidupan masa kini? Muslim adalah umat yang menghindari semua tindakan melampaui batas dan menggunakan cara-cara yang moderat dalam segala aspek kehidupannya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah; 143 yang menyatakan: “Dan demikianlah kami telah menjadikan kamu ummatan wasathan. Agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu.”

Konsep ummatan wasathan ini menjadi inspirasi bagi pengembangan moderasi beragama saat ini. Moderasi beragama fokus pada spektrum hubungan manusia dengan sesama manusia (hablu min an-nas) dan dengan alam semesta serta dengan bangsa dan negara. Sehingga dapat dipahami bahwa moderasi beragama berada dalam ranah pengamalan ajaran agama dan ekspresi beragama yang berlangsung dalam lingkungan multikultural. Skup kecil pengejawantahan moderasi beragama adalah toleransi antar umat beragama sedangkan skup besarnya adalah pengamalan agama dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks toleransi antar umat beragama, sejak dulu bangsa kita telah menjadi model bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Sebagaimana sudah penulis sampaikan di awal,  bahwa Bangsa Indonesia kaya akan ragam suku, budaya, bahasa, agama dan keyakinan. Keragaman itu mampu disatukan jauh sebelum proklamasi kemerdekaan. Banyak pengamat mancanegara yang berpendapat bahwa Indonesia termasyhur dengan cara beragamanya yang moderat. Mampu menyelaraskan diri dalam menerapkan ajaran agama yang bersifat sakral dalam konteks budaya yang bersifat profan dalam kehidupan masyarakat yang multikultur. Hal itu secara tidak langsung turut andil dalam meredam berbagai potensi konflik.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, kita sama-sama menyadari bahwa terlepas dari bagaimana kita menyebut nama Tuhan, bagaimana cara kita menyembah-Nya, kita adalah bangsa yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang ditakdirkan hidup bersama dalam tanah air yang satu, bangsa yang satu dan bahasa yang satu. Tri kerukunan hidup umat beragama menjadi sangat penting untuk terus dipupuk, dibudidayakan dan dilaksanakan sebagai wujud kesyukuran kita atas inisiatif dan kebijaksanaan para pendahulu kita yang telah bermufakat bulat mendirikan bangsa negara yang merdeka berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Melalui prinsip-prinsip moderasi, sebagai warga negara kita dapat menunjukkan komitmen kebangsaan melalui pengamalan ajaran agama tanpa bertentangan dengan Pancasila, tidak melawan realitas kebinekaan, tidak melawan atau menentang NKRI, dan UUD 1945. Wujud kesyukuran kita selanjutnya adalah berkarya dalam keragaman. Bersama dengan seluruh elemen bangsa kita menunjukkan karya nyata untuk memajukan Bangsa dan Negara Indonesia tercinta. (*)

Penulis: Mudawamah, Guru PAI SMA Negeri 1 Magelang

Featured image : dinamikajambi.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

nomortogelku.xyz
Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia