Memblokir Akun Medsos Teman, Tidak Centang Biru di Whatsapp,  Bagaimanakah Hukumnya?

Oleh Rahmi Ifada, S.Ag, M.Pd.I.
Guru SMAN 1 Cigombong Bogor

Digitalisasi tidak dapat dihindari lagi. Dunia global dan perkembangan cara berkomunikasi antar individu manusia terus mengalami peningkatan  seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi. Kini bermunculan berbagai jejaring media sosial  (medsos) yang memudahkan kita untuk berinteraksi dengan orang lain kapan dimana pun. Dengan berinteraksi melalui medsos, seperti di tik tok, snack video, facebook, instagram, youtube, whatsapp, telegram dan sebagainya kita dapat mengetahui kabar teman dan sanak keluarga. Namun, kebanyakan medsos sekarang menyediakan fitur blokir yang membuat orang yang kita blokir tidak bisa berinteraksi dengan akun kita, begitu pun sebaliknya. Blokir-memblokir ini berpotensi memutus silaturahmi. Bagaimana Islam memandang hal ini?

Dalam QS. An nisa ayat 1 Allah Swt berfirman :

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (Q.S. an-Nisa’:1).

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda :

عن أبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عنه قال: قال صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ((من كان يؤمِنُ باللهِ واليَومِ الآخِرِ فلْيُكْرِمْ ضَيفَه، ومَن كان يؤمِنُ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ فلْيَصِلْ رَحِمَه…))

Barangsiapa yang beriman kepada Allah serta hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silahturahmi.”(H.R al-Bukhari & Muslim)

Akan tetapi Islam sendiri tidak mengatur secara rinci bentuk, tata cara, dan media silaturahmi. Hanya saja, secara umum silaturahmi termanifestasikan dalam segala bentuk berbuat baik kepada kepada orang yang kita sambung tali persaudaraan dan tali pertemanannya.

Jadi, bentuk dan media silaturahim memang dikembalikan sesuai tradisi & kebiasaan yang tidak sama antar suatu daerah dengan lain, atau antara suatu zaman dengan zaman yang lain.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari (10/418) mengutip pendapat Imam Al-Qurtubi bahwa bentuk silaturahim secara umum bisa dengan cara saling menyayangi, saling menasehati, berbuat adil, bersikap jujur, dan memenuhi hak-haknya. Imam an-Nawai dalam kitab “Syarh Muslim” (2/2010) juga menjelaskan:

صِلَةُ الرَّحِمِ هِيَ الإِحْسَانُ إِلَى الأَقَارِبِ عَلَى حَسْبِ الوَاصِلِ وَالـمَوْصُوْلِ ، فَتَارَةً تَكُوْنُ بِالـمَالِ ، وَتَارَةً تَكُوْنُ بِالخِدْمَةِ ، وَتَارَةً تَكُوْنُ بِالزِّيَارَةِ، وَالسَّلَامِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ

Silaturahim ialah berbuat baik kepada sanak keluarga sesuai dengan orang yang menyambung tali kekeluargaan, maupun orang yang ia sambung. Terkadang silaturahim ini bisa dalam bentuk harta, melayani, berkunjung, memanggil salam, serta bentuk lainnya.

Oleh karena itu Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari ketika menjelaskan tentang hukum memutus tali silaturahim menegaskan:

الـمُرَادُ بِقَطْعِ الرَّحِمِ الـمُحَرَّمِ قَطْعُ مَا أَلِفَ القَرِيْبُ مِنْهُ مِنْ سَبْقِ الوُصلَةِ والإِحْسَانِ، سَوَاءٌ كَانَ الإِحْسَانُ أَلِفَهُ

مِنْهُ قَرِيْبُهُ مَالًا أَوْ مُكَاتَبَةً، أَوْ زِيَارَةً، أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ. فَقَطْعُ ذَلِكَ كُلِّهِ بَعْدَ فِعْلِهِ لِغَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ كَبِيْرَةٌ.

Yang dimaksud dengan memutus jalinan silaturahim yang dihukumi haram ialah memutus segala kebiasaan-kebiasaan kebaikan yang biasa dilakukan. Kebiasan baik tersebut bisa berupa memberi harta, tulisan, korespodensi, mengunjungi, dan bentuk lainnya.  Meninggalkan kebiasan tersebut tanpa uzur yang dibenarkan syariat termasuk dosa besar. (Kitab at-Tibyan fi an-Nahyi ‘an Muqati’ati al-Arham wal Aqarib wal Ikhwan, 13)

KH M. Hasyim Asy’ari, dalam keterangan di atas menyebut komunikasi melalui surat dan tulisan sebagai salah satu sarana untuk silaturahim. Untuk ukuran zaman ini, media sosial menjadi media paling efektif dan mudah untuk menjalin silaturahim, sebagai pengganti dari cara korespodensi tempo dulu. Sehingga memblokir akun medsos kerabat dan teman sehingga mereka tidak bisa berkomunikasi dengan kita termasuk tindakan memutus silaturahim. Terlebih lagi bila media sosial tersebut menjadi satu-satunya sarana untuk berinteraksi dikarenakan jarak yang jauh, misalnya.

Perlu juga ditegaskan, bahwa ketidakbolehan memutus tali silaturahim ini berlaku apabila tidak ada uzur yang dibenarkan oleh syariat (uzur syar’i). Jadi memblokir akun medsos boleh-boleh saja apabila ada uzur syar’i, atau untuk menghindari bahaya untuk dirinya atau agamanya, seperti mengantipasi pesan penipuan, pemerasan, ancaman, rasis, ajakan teror, dan sebagainya.  Al-Hafidz Ibn al-Barr sebagaimana dikutip dalam kitab Subulus Salam Syarh Bulugh al-Maram (4/221) menjelaskan:

أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ يَجُوْزُ الهَجْرُ فَوْقَ ثَلَاثٍ، لِمَنْ كَانَتْ ‏مُكَالَمَتُهُ تَجْلِبُ نَقْصاً عَلَى الـمُخَاطَبِ فِيْ دِيْنِهِ، أَوْ مَضَرَّةٍ تَحْصُلُ عَلَيْهِ فِيْ نَفْسِهِ، أَوْ دُنْيَاهُ. فَرُبَّ ‏هَجْرٍ جَمِيْلٍ خَيْرٌ مِنْ مُخَالَطَةٍ مُؤْذِيَّةٍ

Ulama sepakat akan kebolehan tidak menyapa seseorang lebih dari 3 hari, apabila pembicaraannya bisa melemahkan pemahaman agama orang lain, atau memberi dampak bahaya  & kerugian bagi diri dan dunianya. Sebab, diam tidak menyapa terkadang lebih baik daripada menjalani hubungan yang menyakitkan.

Pembahasan selanjutnya adalah “Centang Biru” yang merupakan fitur dari aplikasi whatsapp, di mana teman chatting akan tahu apakah kita sudah membaca chatting itu atau belum. Apabila fitur ini dinon-aktifkan, maka teman chatting tidak akan tahu apakah kita sudah membaca atau belum. Pembahasan ini sempat menjadi pertanyaan beberapa orang karena ada anggapan apabila mematikan fitur ini, akan membuat orang suudzan atau buruk sangka sehingga mematikan fitur “centang biru” hukumnya tidak boleh dan suatu bentuk kedzaliman. (Sumber: https://muslim.or.id/57719-hukum-mematikan-fitur-centang-biru-di-whatsapp.html).

Yang beralasan ini perbuatan yang tidak boleh atau haram, karena membuat orang marah dan akan menimbulkan suudzan atau buruk sangka karena tidak mau membalas chat. Alasan ini tidak tepat karena pertama, hampir semua semua pengguna whatsapp tahu ada fitur mematikan centang biru, jadi ia akan paham kalau lawan chattingnya mematikan fitur ini.

Ini adalah urusan dunia dan hukum asal urusan dunia adalah mubah dan boleh sebagaimana kaidah fikh,

اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُ لَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

Hukum asal dari sesuatu (muamalah/keduniaan) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya.

Yang kedua, orang tersebut yang membaca chat hendaknya berusaha husnudzan kepada saudaranya yang belum membalas “mungkin dia sedang sibuk, atau dia sedang ada kegiatan yang hanya bisa membaca dan tidak bisa membalas dengan mengetik.”

Allah berfirman:

اِجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. (.QS. Al-Hujuraat: 12).

Rasulullah saw bersabda,

 إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. [HR. Bukhari & Muslim].

Yang ketiga, fitur ini disediakan oleh whatsapp, jadi boleh memakai, boleh juga tidak, hendaknya kita menghormati hak setiap  orang memilih fitur yang digunakan selama  tidak melanggar syariat dan aturan.

Jadi, bijaklah dalam berteman. Pilihlah teman yang baik dan membawa kebaikan untuk kita. Jika dirasa membawa madharat sebaik dihindari dan hanya say hello seperlunya saja. Karena ada teman yang membahayakan, menjerumuskan dan ada teman yang mengajak kita dalam kebaikan dan syurga.

Wallahu a’lam bisshowaab.

Bogor, 17 Sya’ban 1443 H

Featured image disediakan oleh ekrut.com

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia