Organisasi Independen & Dependen GPAI Perjuangkan Penguatan Karakter dan Hak Profesi

(Direktur Pengurus Pusat Pelatihan Lembaga Pengelola QURUTA dan Edukasi Motivator Literasi Indonesia, Penggagas Rumah Bimbingan Belajar Literasi Indonesia ‘QURUTA’)

Guru sebagai ujungmbak terdepan dalam mencerdaskan anak bangsa ini tidak ada hal yang mudah dalam memainkan, fungsi, tanggung jawab, dan berwenang dalam melatih, mendidik, membimbing, dan membina. Begitu pula dalam penanaman, pembentukan, penguatan, perawatan, dan penjagaan karakter generasi penerus estafeta kepemimpinan bangsa ini. Peranan penting guru tidak seimbang antara hak dan kewajibannya. Utamanya Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) sering didiskriminasikan dan ditumpulkan oleh regulasi dan kebijakan. Perlu perjuangan berdarah-darah untuk mendapatkan haknya.

Organisasi independen merupakan wadah berhimpunnya unsur-unsur yang memiliki sikap netral atau tidak memihak kepada salah satu, punya kekuasaan sendiri, merdeka, tidak dikontrol oleh pihak lain. Independen yang berarti merdeka, berdikari, tidak bergantung kepada orang lain, berdikari, berdaulat.

Pengertian (menurut KBBI); independen adalah kebebasan, bebas, merdeka, berdiri sendiri, solo atau  single player  jika istilah dalam sebuah  game . Suatu organisasi disebutkan bilamana organisasi independen tersebut dapat berdiri sendiri tanpa bersandar pada organisasi lainnya.

Diantara ciri-ciri organisasi Independen yaitu pada umumnya pihak organisasi/lembaga adalah kumpulan orang-orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan memiliki sumber daya yang cukup. Lebih suka melakukan segala sesuatunya sendiri, berpendirian teguh dan tidak mudah dipengaruhi oleh siapapun. Memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah/tantangan hidup dan sabar dalam menghadapinya. Have empati yang tinggi, mengerti bagaimana perasaan orang lain. Berani menyampaikan pendapat, walaupun pendapatnya berbeda dengan yang lain.

GPAI ingin membangun tatanan kehidupan berbangsa, dapat berkontribusi pada bangsa ini, maka dibentuklah organisasi profesi di kalangan GPAI yang bernama Asosiasi Guru pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII). AGPAII dideklarasikan pada 24 Maret 2007 tepat dalam kegiatan yang diadakan Direktorat Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah (PAIS) Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) Depag RI di Cisarua, Bogor Jawa Barat, yang dihadiri oleh Ketua-ketua MGMP SMP, SMA, SMK, dan KKG SD se-Indonesia.

AGPAII merupakan organisasi independen yang mengatur segala sesuatunya dengan kemandirian. AGPAII memiliki Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) sebagai landasan otonomisasi organisasinya. Organisasi dependen merupakan wadah berhimpunnya beberapa orang yang tergantung (terikat pada); tidak berdiri sendiri. Organisasi semisal FKG PAI TK, FKG PAI SLB, KKG PAI SD, MGMP PAI SMP, SMA, SMK. Kenapa disebut dependen? Oleh karena organisasi tersebut mengikatkan pada organisasi induk AGPAII sebagai rumah besarnya. AGPAII salah satu organisasi independen yang mewadahi organisasi dependen tersebut. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, organisasi profesi guru adalah perkumpulan yang berbadan hukum yang didirikan dan diurus oleh guru untuk mengembangkan profesionalitas guru.

Sebagaimana termaktub dalam AD BAB I tentang Pengertian dan Ketentuan Umum Pasal 1 (ayat 4) menjelaskan bahwa anggota Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam biasa adalah GPAI di tingkat SD, SMP, SLB dan SMA/SMK baik Negeri maupun Swasta di seluruh Indonesia.

Sebagai organisasi independen, AGPAII memiliki visi yang tercantum dalam AD/ARTnya, yaitu mewujudkan Organisasi Profesi GPAI yang profesional dalam rangka meningkatkan kualitas kepribadian Islam yang  kaffah  bagi peserta didik di sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (SD, SMP). , SMA/SMK) menuju kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Salah satu Misi AGPAII (poin 1) yaitu, sebagai wadah berkumpulnya pemikiran dan pengalaman dalam meningkatkan kompetensi, memberdayakan potensi sebagai ikhtiar mengembangkan mutu proses dan hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang optimal serta meningkatkan kesejahteraan GPAI melalui jalinan silaturahmi antar pengurus atau anggota dalam organisasi profesi AGPAII.

Dalam AD BAB II Pasal 4 Fungsi AGPAII menegaskan sebagai forum konsultasi dan komunikasi antara sesama GPAI dalam upaya meningkatkan kemampuan profesionalismenya. This is in ART AGPAII BAB IV Program Kerja dan Kegiatan, Pasal 10, Bidang Kebijakan, menyatakan programnya adalah memberikan  tekanan  terhadap rancangan kebijakan yang terkait dengan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Sekolah dan atau berbagai hal lain yang terkait dengan GPAI kepada pihak-pihak yang memiliki otoritas. pada bidang tertentu; serta membangun sinergi dengan MP3A (Majelis Pertimbangan dan Pemberdayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan Pusat) dalam upaya melakukan telaah dan masukan kebijakan yang terkait dengan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam.

Sosialisasi Panjang dan Kebersamaan Perjuangan Menuai Hasil

Lahirnya AGPAII tidak terlepas dari keseriusan, kesungguhan, komitmen dan konsistensi pegiat pendidikan. khususnya GPAI. Untuk menuju seperti saat sekarang ini instan, tidak dengan cepat dapat terwujud. Perjuangan panjang dengan segala aral melintang, merintangi, dan menghadang. Namun sosialisasi terus dilakukan untuk pembentukan dimulai dari DPP, DPW di 34 provinsi, DPD ditingkat kab/kota, dan DPC ditingkat kecamatan.

Salah satu yang sedang menjalankan amanah kepemimpinan yaitu, Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (DPD AGPAII) Kota Bekasi menggelar kegiatan Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) di Era Digital (10/6/2021) secara  live zoom  dan  memikat  dengan mengusung tema; Kreatifitas GPAI yang Berkualitas”,  bertempat di lantai 5 Aula Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi.

Dalam gelaran kegiatan luring tersebut dihadiri dari utusan masing-masing organisasi yang terdiri dari 2 orang, kurang lebih 30 orang dengan penerapan Protokol Kesehatan dan tamu undangan yang berasal dari Kota Bekasi yaitu, H. Shobirin, S.Ag., M.Si. (Kepala Kantor Kemenag), H. Mulyono Hilman Hakim, S.Ag., MM (Kepala Seksi PAKIS), Didin Badrudin, M.Pd. (Ketua POKJAWAS). Kegiatan ini didukung oleh Kantor Kemenag Kota Bekasi, Pemerintah Kota Bekasi, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Universitas Islam 45 (Unisma) Kota Bekasi, dan Wardah  Cosmetic .

Sedangkan peserta  live zoom  diikuti oleh DPW AGPAII Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, dan DPD AGPAII Tasikmalaya, Bogor, Karawang, Bekasi, Bandung-Jawa Barat.

Nurfadilah MPd dari GPAI SMPN 42 Kota Bekasi memandu kegiatan dari awal pembukaan sampai penutupan. Nurfadilah menghaturkan terima kasih kepada para peserta dan juga tamu undangan di atas kehadirannya, dan turut mensukseskan kegiatan yang diselenggarakan oleh DPD AGPAII Kota Bekasi baik melalui  live zoom /luring.

Rangkaian acara dimulai dari pembukaan, pembacaan kalam Ilahi (QS. Al Hasyr ayat 21-24) yang dikumandangkan dengan khidmat oleh Wawan Gunawan, SHI (GPAI SMA Nasional 1 Kota Bekasi). Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars AGPAII.

Selanjutnya Ketua Panitia Kegiatan, Rusman An-Nadawi SPdI.\ menyampaikan apresiasi kepada para Ketua Organisasi Profesi PAI (FKG PAI TK, KKG PAI SD, MGMP PAI SMP, SMA, SMK) yang telah mendorong anggotanya untuk turut serta dalam kegiatan yang digagas DPD AGPAII Kota Bekasi. Dan juga para narasumber yang telah meluangkan waktu dan dedikasinya untuk PAI.

 Pendidikan Agama Diabaikan, Indonesia Darurat Karakter

Kepala Kantor Kemenag Kota Bekasi, H Shobirin SAg MSi dalam Arahan dan sekaligus membuka acara secara resmi menyampaikan hal-hal penting tentang kiprah GPAI dalam meningkatkan dan meningkatkan kualitas pendidikan bangsa ini. Bahwa GPAI memiliki peran mulia, strategis, signifikan dalam mempersiapkan peserta didik pintar yang benar dan berkarakter Islami.

Mengapa harus pintar yang benar dan berkarakter Islami? Tantangan yang dihadapi kita pada saat ini adalah generasi muda yang sedang mengalami degradasi karakter, pelajar/pemuda yang diharapkan menjadi pemimpin bangsa masih menjadi pekerjaan rumah. Dimana letak degradasi itu? Pertama , pelajar/pemuda berada pada lingkaran kasus narkoba.

“Faktanya jelas, dari 1 juta pelajar kita, waktu saya berkunjung ke Lapas Gunung Putri, penghuninya 70% merupakan pelajar masih tingkat SLTP. Masalahnya adalah broken home dan pergaulan bebas lingkungan yang tidak terkontrol, bahkan pelajar itu sendiri yang penjual/pengedarnya,”  tuturnya.

Kedua , pelajar SLTP di kota-kota besar di Indonesia sebanyak 57% telah direnggut (kehilangan) kegadisannya. Ketiga , pelajar SLTP/MTs 78% tidak mampu membaca Alqur’an dengan baik dan benar. Keempat , terjadinya krisis kemanusiaan (tidak humanis dan olah rasa yang baik) dengan banyaknya kasus anak melakukan kekerasan, membunuh orangtua, anak menggungat orangtua/guru, tawuran masih sering terjadi. Belum lagi banyak kasuistik pembunuhan bayi dari Kasus MBA ( Married by Accident ). MBA didasarkan oleh beberapa faktor yaitu, kebablasan atau kemudahan akses informasi ,  peranan orangtua yang belum maksimal dalam mengawasi anaknya, kurangnya pendidikan agama, orangtua memberikan kebebasan yang terlalu besar, kurangnya pendidikan seks , dilakukan atas dasar kemauan satu sama lain.

Married By Accident di Indonesia berasal dari kalangan yang masih berstatus pelajar dan remaja. Dalam periode inilah pelajar dan remaja merupakan terjadinya pertumbuhan yang sangat pesat mulai dari fisik, psikologis maupun intelektual.

Menurut  United Nations Development Economic and Society Affairs  (UNDESA 2010), Indonesia termasuk negara ke-37 dengan persentase pernikahan muda yang tinggi bahkan menduduki posisi kedua di ASEAN.

“Ternyata kepintaran tidak menjamin negara akan berada pada baldatun thoyibatun warobbun ghafur, kepintaran identik dengan penguasaan ilmu pengetahuan–intelektualitas, yang benar-benar memiliki fungsi, domain, kesempurnaan masanya, jadi peran GPAI itu luar biasa dalam mempersiapkan anak berkarakter,”  tandas Shobirin.

 Pembudayaan Apresiasi dalam Pembentukan Karakter Anak

Pertanyaannya sangat menggelitik, selama ini bagaimana peran tenaga pendidik dan tenaga kependidikan? Dicontohkan Oleh Shobirin, di Jepang, penghargaan Terhadap Peserta didik Yang Telah menghasilkan karya, guru Cukup DENGAN ucapan  Arigatou Gozaimasu ‘  (terima kasih). Namun itu menjadi pembudayaan sehari-hari dan terus menerus didengarkan, dan menjadi pembentukan karakter. Dan peserta didik merasa senang, di apresiasi, di motivasi, ditumbuhkan nilai-nilai humanistisnya.

Agama Islam sebagai agama tauhid sudah sejak awal menerapkan pendidikan karakter. Dalam PAI itu merupakan tanda syukur. cukup dengan kata ‘syukron ya bunayya’ atau ‘subhannallah’ untuk memberikan apresiasi dari setiap hasil jerih jerih payah anak yang telah dikerjakanKata  ‘yaa bunayya’  merupakan panggilan kesayangan Nabi Ibrahim untuk anak tercinta Nabi Ismail , bapak-bapak/ibu-ibu tidak salah bila memanggil dengan kata itu,  ajak Sobirin.

Dalam pembentukan karakter tidak harus berat-berat. Penghargaan terhadap karya peserta didik merupakan bentuk yang akan menjadi penyemangat dalam rangka menciptakan motivasi belajar. Peserta didik didik At- ta’awun   merupakan karakter Islami yang dibangun dari awal di masa  golden age  hingga dewasa tetap berkarakter baik.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP AGPAII, Ahmad Budiman SAg MPd mengungkapkan peran dan posisi penting guru PAI dalam konstelasi peningkatan dan kemajuan pendidikan di Indonesia terhadap pembentukan karakter peserta didik. GPAI harus yakin dan sadar di negeri ini ternyata memiliki sisi strategi dalam rangka pembentukan karakter bangsa. “Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW; Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq (sesungguhnya Aku [Muhammad] diutus untuk menyempurnakan akhlaq),” jelasnya .

Posisi GPAI ada dideretan/garda terdepan dalam penanaman, pembentukan, penguatan, perawatan serta menjaga karakter peserta didik. Posisi penting lainnya sebagai pewaris para Nabi dan dijamin dalam undang-undang di negeri ini.

“Negara kita bukan Negara Agama/Khilafah tapi negara Pancasila, namun sila kesatu mempertegas eksistensi karakter/akhlaq berbangsa dan bernegara serta berlaku untuk warga negaranya, sehingga bila karakternya menurut sila kesatu sebagai dasar pondasi kehidupan dan dipertegas dengan sila kedua, maka bangsa ini tidak akan terus menerus didera krisis kepemimpinan, karena memimpin dengan etika/keberadaban,”  tegasnya.

Sebagai ilustrasi, pendidikan karakter di pondok pesantren dilakukan 24 jam, di madrasah setiap hari dari pagi sampai siang dengan mata pelajaran agama, di sekolah umum hanya 3 jam dalam seminggu. Di pondok pesantren dan madrasah meningkatkan pengembangan, pembentukan, perawatan dan penjagaan serta pembinaan yang berkelanjutan tidak terputus. Kemudian, siapa yang menghubungi PAI di sekolah umum?

“Disinilah, di rumah besar GPAI yaitu AGPAII, kita bersama-sama, sebanyak 238.636 jumlah GPAI (sumber Direktorat PAI Kemenag RI), GPAI punya amanat yang sangat mulia untuk menambahkan nilai-nilai agama kepada peserta didik, GPAI berkewajiban untuk menyampaikan dan menyampaikan ajaran agama yang kaffah, khususnya karakater Islami,” kata   Ahmad.

AGPAII adalah rumah besar GPAI untuk semua status, tidak ada dikotomi apakah itu PNS, non PNS, honorer yang diangkat oleh Kemenag atau Kemendikbud. Semuanya membangun harmonisasi dan tetap di advokasi haknya. AGPAII merupakan miniatur keragaman dan kebersamaan. AGPAII adalah organisasi penting, tetapi tidak akan dipentingkan dan banyak yang tidak mementingkan, walaupun kita ada dalam pembinaan dua instansi,” lanjutnya .

 Advokasi Sejatinya Menjadi Hak GPAI dari Diskriminasi Regulasi dan Kebijakan

Selain harmonisasi yang dibangun oleh rumah besar AGPAII, juga yang terpenting dalam kondisi saat ini dan seterusnya akan melakukan advokasi terhadap para GPAI di semua tampilan, baik itu kebaikan dan keresahan akan nasib dan nasab seluruh GPAI di Indonesia.

Sekertaris DPD AGPAII Kota Bekasi, Anshori MPdI (GPAI SDN Harapan Mulya 1) mengutarakan bahwa, DPD AGPAII Kota Bekasi membangun kerjasama dengan UNISMA yang dilegalkan dengan MoU untuk Sekolah Pascasarjana/Strata Dua (S2) Program Studi Manajemen Pendidikan bagi GPAI yang akan melanjutkan studinya sehingga pendidikan karakter akan menjadi capaian tujuan.

“Dalam MoU, dimaktubkan terkait proses belajar, potongan biaya dengan kelas khusus dan peluang bagi GPAI yang berkompeten untuk diajukan sebagai dosen di UNISMA, fasilitas yang dapat digunakan untuk kegiatan AGPAII, mari…!!! bagi GPAI yang akan melanjutkan studi segera menyiapkan segala sesuatunya, daftarkan segera, agar ada peningkatan kualifikasi akademik,”  seru Anshori.

Keresahan GPAI ini di manajemen ( Manajemen Kecemasan Guru PAI ) oleh AGPAII untuk disampaikan ke Mendikbud, Menag, Meneg PAN RB, BKN, DPR RI untuk menanyakan terkait-peraturan terkait yang tidak memihak GPAI. Kaitannya dengan regulasi yang terdapat dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara; PP No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan; PP No. 49/2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja; Perpres No. 38 Tahun 2020 tentang Jenis Jabatan Yang Dapat Diisi Oleh PPPK; Perpres No. 98/2020 tentang gaji dan Tunjangan PPPK; dan Peraturan BKN No. 1/2019 tentang Petunjuk teknis Pengadaan PPPK; Permen PAN RB Nomor 28 Tahun 2021 Tentang Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja untuk Jabatan Fungsional Guru pada Instansi Daerah Tahun 2021, serta Pengadaan kebijakan-kebijakan lainnya.

“Semua Kementerian menyatakan bahwa PPPK sudah memutuskan dan meluncurkan, dan tidak dapat diganggu gugat, sudah putus dan final.” cerita.

Alhasil, kebersamaan AGPAII dalam melakukan advokasi dan lobi-  lobi Al Mauizatul Hasanah  membawa solusi yaitu, mengubahnya kebijakan terkait PPPK. Perjuangan tidak akan mengingkari hasil, maka diberikannya 20.400 (dua puluh ribu empat ratus) kuota PPPK untuk GPAI yang sebarannya ke berbagai kabupaten dan kota. Namun demikian masih banyak pekerjaan-pekerjaan advokasi yang harus sama-sama diperjuangkan antara lain PPG, TFG (sertifikasi), Inpassing dan lainnnya terkait kesejahteraan GPAI.

“Ayoo…!!! GPAI besarkan AGPAII, karena rumah besar untuk memperjuangkan nasib dan nasab kita semua, jika itu telah menghasilkan kita jangan lelah untuk memperjuangkan hak-hak, jangan lupa prioritaskan alokasi biaya untuk meningkatkan kompetensi pengembangan diri, literasi publikasi karya ilmiah dan karya inovatif agar kualitas pendidikan di negeri ini maju pesat. Program AGPAII dan capaiannya dalam rangka pembentukan dan penguatan karakter gurunya yang kemudian diturunkan oleh guru kepada peserta didik,”  Ahmad memberi semangat.

Ibarat satu, dua, empat batang lidi bila disatukan tidak akan memperkuat, tidak menjadi tiga yang kokoh, bila untuk melecut juga tidak akan terasa efeknya. Begitu pula dengan sebuah organisasi/lembaga, bila bergerak dan hidup di rumahnya sendiri tidak akan berkembang. Jadilah GPAI seperti lidi yang beratus-ratus batang menjadi satu; rekat–kuat–hebat–bermartabat. Gunakan dan bergerak bersama di rumah besar AGPAII dengan keutuhan dialektika, dinamika, dan harmoni yang sejalan seirama.

 Wallahu A’lam Bis-shawab .

# Salam Literasi; Indonesia Berkarya!!!

# Salam Guru Literasi; Semangat, Hebat, Literat!!!

# Jaya AGPAII, Jayalah Indonesia, GPAI Sejahtera!!!

Sumber berita:Organisasi Independen & Dependen GPAI Perjuangkan Penguatan Karakter dan Hak Profesi

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia