SEBAIK-BAIK BEKAL SEBELUM AJAL MENJEMPUT

Kematian dan usia seseorang merupakan rahasia Allah Swt. Kita Tidak ada yang mengetahui kapan, bagaimana dan di mana seseorang akan meninggal dunia, akan diwafatkan oleh Allah Swt. Namun begitu persiapannya harus selalu dilakukan khususnya di saat seseorang berusia  sebelum 40 tahun.
Usia 40 tahun adalah momen yang sangat tepat bagi seseorang untuk mempersiapkan bekal utamanya sebelum ajal menjemput. Walau pun kita tidak tahu tak ada jaminan yang Allah berikan akan masuk surga atau pun neraka, tapi kuncinya adalah agar keimanan dan ketaqwaan seseorang kembali diperkuat saat berusia 40 tahun.
Nah, apa sajakah sebaik-baiknya bekal utama  sebelum ajal menjemput manusia?
Berikut dirangkum dari berbagai sumber enam bekal sebelum ajal menjemput kita, yaitu :

Pertama, senantiasa mengucapkan alhamdulillah dalam berdoa untuk mensyukuri hidup
Berdoa untuk mensyukuri hidup adalah hal yang sudah seharusnya dikerjakan sejak dulu. Ketika seseorang berusia 40 tahun menjadi usia yang paling tepat untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan karena sudah cukup lama hidup di dunia ini. Salah satunya dengan menggunakan panca indera dengan baik.
Nikmat penglihatan mata dan mensyukuri karunia Allah  dengan nikmat mata sesuai peruntukan yang sudah ditetapkan. Fungsi mata, kita melihat yang baik-baik seperti untuk membaca Alqur’an dan menelaah ilmu-ilmu. Fungsinya telinga, untuk mendengar azan, mendengarkan bacaan Alqur’an dan nasehat kebaikan. Fungsi mulut untuk berbicara yang baik, menasehati dalam kebaikan dan jika tidak bisa bicara baik maka lebih baik diam. Fungsinya tangan untuk bekerja dengan baik, benar dan halal serta selalu menggunakan sebagian hartanya  untuk berzakat, infak dan sodaqoh. Adapun Fungsi kaki kita gunakan untuk berjalan ke tempat bekerja, ke majelis ilmu, belajar agama dan mendatangi masjid untuk melaksanakan solat

Kedua, taat dan berbakti kepada kedua orangtua
Kedua orangtua menyebabkan lahirnya kita ke dunia. Mereka menjadikan tujuan utama kita dalam memperbanyak pahala kepada Allah SWT dengan ketaatan dan berbakti dengan benar maka pahala akan mengalir. Termasuk dengan mendoakan orangtua ketika masih hidup atau pun sudah meninggal agar bisa mendapat kenikmatan di dunia dan akhirat. Doa anak yang shalih kunci utama masuk surga karena merupakan amalan yang tiada terputus.
Perjuangan kedua orangtua mendidik kita sejak kecil dan bahkan sejak dalam kandungan ibu. Senantiasa mendoakan agar orangtua selalu mendapat keselamatan, ampunan dan kasih sayang di alam kuburnya.

Ketiga, senantiasa membaca dan mengamalkan Alquran
Mengamalkan kitab suci alquran, tak hanya dengan selalu membacanya setiap waktu. Hal yang terpenting bagi kita adalah membaca Alqur’an, mempelajarinya dan mengajarkan isi Alqur’an tersebut pada anak didik dan keturunan kita sehingga pahala akan terus mengalir tanpa henti.
“Jika sampai sekarang kita belum bisa membaca dengan baik dan menghafal Al quran, minimal anak didik dan keturunan kita yang mahir membaca dan menghafal Alquran. Kita titipkan pendidikan anak-anak di sekolah yang mengajarkan Alquran. Mengalir pahala untuk orang tuanya. Apabila orang tua belum bisa membimbing baca alquran, maka kita harus mencarikan guru yang dapat mengajarkan anak-anak kita dapat membaca dan mempelajari Alqur’an dengan benar, maka pahalanya mengalir pula kepada kedua orang tua.

Keempat,  instropeksi dan mawas diri.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita pasti pernah berbuat salah dan khilaf. Pentingnya selalu instropeksi menyadari kesalahan yang dilakukan sehingga ke depannya selalu berhati-hati dalam bertindak.
Orang yang selalu mawas diri akan menyadari betul eksistensinya sebagai manusia yang tak pernah luput dari salah dan khilaf semakin memperbaiki dirinya ke arah yang lebih baik.

Kelima, bijaksana dalam menggunakan harta yang dimiliki.
Allah SWT tidak melarang hambanya untuk menikmati hal-hal yang baik di dunia, seperti mempunyai pakaian yang bagus, makanan yang lezat, hingga rumah yang indah serta nyaman. Namun demikian kita harus dapat menggunakan harta secara bijaksana dan tepat sasaran. Umpamanya kita memakai harta untuk menyekolahkan anak-anak di tempat yang baik sehingga mampu menjadi ahli alquran.
Anak yang ahli alquran akan diistimewakan oleh Allah SWT akan dihiasi mahkota saat ke surga, lalu kemudian bapak ibunya dipanggil untuk dipakaikan mahkotanya tersebut.
Selanjutnya kita menggunakan harta di dunia kita titipkan dan infak sodaqohnya ke masjid, panti asuhan, anak yatim piatu, ke majelis-majelis ilmu, kita titipkan juga ke orang-orang dhuafa yang membutuhkan maka pahalanya akan terus mengalir kepada kita.

Keenam, senantiasa bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Swt.
Taubat nasuha harus menjadi pilihan utama bagi umat Islam dengan sebenar-benarnya taubat  memohon ampun dan meningkatkan keimanan serta ketaqwaan kepada Allah.
Setelah seseorang bertaubat, maka dia harus ajeg dan konsisten dengan penuh kepatuhan. Tunduk dan patuh pada Allah Swt menjadikan keimanan dan ketakwaannya meningkat. Contohnya jika seseorang mendengar suara azan, bersegeralah langsung datang ke masjid, bukan santai-santai di rumah.
Jika seseorang mendengar nasehat kebaikan untuk berbuat baik, dia bersegera mengikuti kebaikan itu dan tidak melalaikannya.

Demikian bekal kehidupan sebelum ajal menjemput kita yang selalu harus dilakukan sepanjang hari, sepanjang hidup dan sepanjang hayat masih dikandung badan. Kita tidak akan menyesal jika kematian akan datang karena sudah dipersiapkan bekal amal ibadah sebaik-baiknya sebelum menghadap sang Khalik dan tentu berharap surganya Allah Swt. Aamiin.

Oleh Rakhmi Ifada, S.Ag, M.Pd.I
(Guru SMAN 1 Cigombong Bogor)
Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia