Seri Belajar Ringan Filsafat Pancasila ke 45 Memaknai sila ketiga “Persatuan Indonesia”

Ketika munulis kakawin atau syair Raja Sutasoma, Mpu Tantular, Pujangga -Juru Tulis, Kerajaan Majapahit ini, bermaksud menjelaskan sebuah fenomena sosial yang dilihatnya. Juru tulis kerajaan ini menuliskan kisah Sutasoma pada masa  Majapahit yang dirajai oleh Hayam Wuruk/Sri Rajasanagara (1350-1389). Dan sang Amangku Bhumi Maha Patih Gajah Mada.

Mpu Tantular secara tidak langsung melakukan kritik kekuasaan dengan kakawin Sutasoma. Kakawin Sutasoma sangat istana centris. Rakyat jelata justru hanya menjadi bagian dari cerita, dan itu sebagai korban. Ketika  Raja Purusada atau Kalmasapada yang dianggap titisan raksasa,  tak sengaja disajikan daging manusia sebagai santapannya. Kemudian dia menjadi ketagihan menyantap daging manusia. Sebagai sebuah simbol keserakahan yang mengabaikan hak-hak rakyat.

Kakawin Sutasoma juga menjadi bagian dari proses penggambaran realitas sosial keagamaan di lingkungan istana wilwatikta (Majapahit). Tokoh Agama Hindu-Syiwa dan Budha dijadikan bagian dari pranata kenegaraan dan kekuasaan. Mpu Tantular, melihat kekuasaan raja kadang menjadi alat untuk melakukan pemaksaan, termasuk agama.

Dalam konteks kekuasaan, Majapahit, pada masanya, merupakan sebuah kekuasaan besar, adi daya. Penaklukan yang dilakukan oleh Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada adalah bagian dari rekayasa sosial untuk menunjukkan pengaruh dan kejayaan.

Fenomena sosial yang dia hadapi adalah raja memeluk Hindu-Siwa sementara dirinya dan rakyat banyak yang menganut agama Budha. Petikan pupuh Kitab Sutasoma adalah:

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?

Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,

Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua.

Pupuh 139 bait 5 Kakawin Sutasoma ini, secara teologis, Mpu Tantular menggunakan model konsep “hakekat satu” kebenaran. Walau beda jalan dalam mencari kebenaran.

Konsep tersebut dimaksudkan sebagai sebuah konsep teologis dan teori kebenaran yang satu. Tak ada kebenaran yang mendua.

Konsep teologis Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, ini berkelindan dengan hasrat politik Maha Patih Gajah Mada. Gajah Mada yang mempraktekkan politik kekuasaan dengan amukti Palapa. Amukti yang menunjukkan hasrat kekuasaan besar untuk menyatukan nusantara. Seolah Gajah Mada mendapatkan legitimasi dari Amuktia Palapa dan Semboyan Bhineka Tunggak Ika. Sumpah Palapa, adalah memiliki muatan ideologis. Posisi kelas seseorang menentukan ideologi. Dan sekaligus menentukan praktik laku lampahnya. Seperti Gajah Mada yang melakukan Sumpah Palapa (amukti Palapa). Sumpahnya adalah bukti dari kuatnya ideologi kenegaraan Majapahit.

Sekaligus sebagai bagian dari upaya penguatan ideologi negara.

Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada : “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Artinya setelah tunduk Nussantara, aku akan beristirahat. Setelah tunduk Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah aku beristirahat.

Proses penyatuan yang juga menggunakan penaklukan.

Ini yang membedakan antara Sutasoma-Mpu Tantular dengan Amukti Palapa-nya Gajah Mada. Pupuh Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, memiliki pijakan teologis-spiritual. Penyatuan kebenaran yang meluruhkan egoisme dan fanatisme agama, suku bangsa. Itulah yang kemudian menjadikan Indonesia utuh dan disegani. Luruhnya egoisme identitas dan kepentingan kelompok, pribadi untuk menyatu demi kepentingan bangsa.

Persatuan Indonesia harus dilandasi spiritual ketuhanan dan kemanusiaan. Meluruhkan egoisme adalah bukti tingginya nilai kemanusiaan yang akan menyatukan hati. Persatuan Indonesia yang harus terus bergerak menjadi Kesatuan Indonesia.

Persatuan dari semua identitas rakyat Indonesia yang beragama. Persatuan yang tak menghilangkan identitas kesukuan, agama, namun memiliki kepentingan yang sama. Yaitu Kesatuan Indonesia. Kesatuan yang rela menyebut nama “KAMI” ketika berbicara Indonesia. Sebab dalam frase “KAMI” melebur semua identitas untuk menyatu demi kepentingan Bersama, Indonesia Jaya, Maju, Sejahtera. “Nagara gineng pratijna” (mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, golongan dan keluarga).

Pupuh Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa adalah pijakan teologis Persatuan Indonesia. Tak ada persatuan tanpa pijakan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tak ada Persatuan Indonesia tanpa Kemanusiaan Yang Beradab. Salam (Kang Marbawi)

Sumber berita: https://pasundan.jabarekspres.com/2021/05/07/seri-belajar-ringan-filsafat-pancasila-ke-45-memaknai-sila-ketiga-persatuan-indonesia/

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia