SUKSES DUNIA AKHIRAT

Herimirhan, S.Ag Guru PAI SMP Lazuardi Haura Global Compassionate
Pengurus DPW AGPAII Provinsi Lampung

Sukses atau kesuksesan merupakan suatu pencapaian yang ingin dimiliki dan dirasakan oleh semua orang dengan tujuan hidup untuk meraih kebahagiaan. Sukses, menurut sebagian orang merupakan suatu keberhasilan dari  segala usaha yang mereka lakukan. Dalam cakupan pengetahuan yang sederhana, seseorang dapat dikatakan sukses apabila sudah mampu mencapai apa yang dicita-citakan. Namun demikian, bagaimana standarisasi/ukuran secara koperehensif mengenai sebuah kesuksesan. Bisa jadi menurut orang lain,  kita sudah berada pada level kesuksesan, di lain pihak tidak menutup kemungkinan kita belum mencapai derajat kesuksesan yang sesungguhnya.

Dari dinamika tersebut, ada hal yang menarik dan mungkin bisa menjadi benchmark (tolok ukur) dalam merespon sebuah kesuksesan. Dalam buku Outliers (Rahasia Dibalik Sukses) Malcolm Gladwell mengemukakan  bahwa kisah sejati tentang sukses benar benar berbeda dengan apa yang kita baca, dan jika kita ingin memahami bagaimana perjuangan orang orang, kita harus meluangkan waktu lebih banyak untuk mengamati apa yang ada di sekeliling mereka. Rasa kesuksesan dan kegagalan hanyalah beberapa buah kejadian dalam perjalanan panjang, suatu koin dengan dua sisi, hal-hal yang harus kita punyai keduanya agar menjadi utuh. Kita tidak seharusnya melihat bahwa kita jadi sukses karena ini itu, juga kita gagal karena ini itu. Pada kenyataannya kita tak selamanya sukses dan tak pula selamanya gagal.

Narasi menarik sebagai sebuah referensi tentang kesuksesan, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Haidar Bagir, President Director Mizan Group, penggagas Gerakan Islam Cinta. Ia membagikan paparannya bertajuk Passion by Compassion,  Mengembangkan Hidup Bermakna Melalui Bisnis dan Aktivitas Kemanusiaan.  Beliau mengklasifikasikan makna sukses pada tiga bagian.

Pertama,  bitter success (sukses pahit), yaitu  seseorang yang memiliki uang banyak dan popularitas. Namun, kesuksesan ini pahit karena masih banyak pemilik kesuksesan ini yang menderita dan memutuskan mengakhiri hidupnya. sukses yang mendatangkan kegetiran kepada diri pelakunya. Sangat mungkin mengakibatkan depresi. Jika depresi ini semakin parah, sangat bisa berujung pada suicide (bunuh diri), sebut saja actor ternama Hollywood Glee, Mark Salling, yang ditemukan tewas akibat suicide.

Merujuk pada fakta sejarah tentang Qorun, “kesuksesan” yang ia peroleh dari harta yang berlimpah yang diabadikan dalam QS Al-Ankabut ayat 39. “dan (juga) Qarun, Fir‘aun dan Haman. Sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah)”. Dan ingatlah juga kisah tentang kehancuran Qarun, seorang kaya raya yang angkuh dari kaum nabi Musa; Fir’aun, raja dan penguasa Mesir yang kejam dan Haman seorang kepercayaan Fir’aun yang patuh dan selalu mengikuti keinginannya. Sungguh, telah datang kepada mereka bertiga utusan Allah yang bernama Nabi Musa dengan membawa keterangan-keterangan yang didukung oleh bukti dan mukjizan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di muka bumi, dan mereka termasuk orang-orang yang tidak luput dari kebinasaan dan azab Allah. Puncak kesombongan Qarun terjadi saat ia merasa menjadi orang yang paling baik dari seluruh umat manusia. Bahkan ia sampai memproklamirkan diri tidak membutuhkan apapun karena merasa dirinya sudah sangat kaya.

Kisah Qarun dalam Al-Quran berakhir tragis, karena ia beserta seluruh hartanya tersebut ditenggelamkan oleh Allah swt akibat kesombongan.  Semasa hidup, Qarun dikenal sebagai sosok yang multi-talenta. Ia dijuluki dengan sebutan “Munawir” karena kemerduan suaranya dalam membaca kitab Taurat. Selain itu, Qarun juga adalah laki-laki yang lihat dalam berbisnis dan mengetahui berbagai trik untuk memperlancar usahanya. Berkat itu, ia menjadi seorang saudagar sukses dan dikenal sebagai orang paling kaya pada zaman nabi Musa. Sosok Qorun adalah bagian dari setting sebuah kesuksesan, namun dengan kesuksesan itupun berakkhir dengan sebuah kepahitan yang abadi yang diterima oleh seorang yang benama Qorun.

Kedua, sukses yang menyengsarakan orang lain (toxic success). Ini lebih parah dari sukses jenis pertama. Seseorang yang sukses tapi ia mengambil hak orang lain, menilep uang rakyat dan negara. Sebagaimana wajah bangsa Indonesia yang sampai detik ini belum sepenuhnya terbebas dari belenggu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Masih segar dalam ingatan kita bagaimana para petinggi dan pejabat pemerintah yang tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena penyalahgunaan uang rakyat. Belum lagi permasaalahan-permasalahan lain melanda bangsa Indonesia yang pada ujungnya dapat meyengsarakan dan melengkapi penderitaan rakyat. Bagi mereka para pelaku korupsi yang menikmati hasil dari uang korupsinya dan belum tertangkap. Mereka sukses tetapi kesuksesannya menari-nari  diatas penderitaan rakyat. Seseorang yang memiliki perusahan yang terkenal dengan puluhan ribu karyawan ia tergolong orang sukses, namun pada saat memberikan hak kepada karyawannya  tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bisa jadi hal inipun dikategorikan pada kesuksesan tetapi menyengsarakan dan merugikan orang lain. Kesuksesan ini juga tidak memberikan kebahagiaan.

Ketiga, kesuksesan yang membahagiakan (meaningful success). Kesuksesan memiliki  makna. Kekayaan dan ketenaran seperti pada kesuksesan pertama bisa saja tidak memberikan makna kecuali kekayaan dan ketenaran tersebut digunakan untuk dapat menolong orang lain sehingga memberikan makna mendalam dalam mendorong kita mencapai meaningful success dengan nilai welas asih (compassion). Walaupun ada juga yang mengartikan sukses jika sudah punya rumah dan mobil mewah, dan lain sebagainya. Sukses tersebut adalah sukses yang bersifat nisbi atau tidak akan abadi.  Jika seseorang memiliki harta yang banyak namun di kemudian hari habis dan jatuh miskin, maka orang tersebut akan memiliki label pernah kaya dan sukses, namun sekarang jatuh miskin. Begitu pula dengan orang yang memiliki pangkat dan jabatan yang tinggi, jika tiba waktu pensiun pun maka suksesnya akan hilang dan selesai.

Oleh karena itu, Alquran menjelaskan tentang konsep kesuksesan dalam menggapai derajat kemuliaan di hadapan Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 20 yang artinya “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”.

Dalam QS. Surat Al-Mu’minun juga menjelaskan “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu (1)  orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (2),  dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (3), orang-orang yang menunaikan zakat (4),  dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas (5), dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, (6) dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yang akan mewarisi surga  Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Alquran memberikan penjelasan (bayan), bahwa orang-orang yang dikatakan sukses dan berhasil serta kebahagiaan dalam hidup apabila: Memiliki komitmen keimanan, yakni mantap serta kokoh imannya, kuat tauhid dan akidahnya. Inilah modal awal meraih derajat kemuliaan di hadapan Allah SWT dan suksesnya kekal dan abadi.

Semoga kita meraih kesuksesan dunia akherat, Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban nar. “Yaa Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”[]

Featured disediakan oleh intisari.grid.id

#saveguruagamaindonesia

 

 

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia