Syafaat dalam Perspektif Sekte

By Muchotob Hamzah

Para ulama mengumpulkan terma syafaat dalam Al-Qur’an terdapat tiga puluh ayat. Ini menunjukkan betapa Allah SWT.memberikan porsi yang besar tentang syafaat. Dalam hadits sahihpun tidak sedikit terma syafaat yang dibicarakan.
Akan tetapi sampai pada pemahaman para ulama sekte, memiliki pandangan yang variatif terhadap diktum Al-Qur’an dan hadits tsb.
Pertama. Ulama Khawarij, Mu’tazilah dan yang sefaham meyakini bahwa syafaat tidak ada. Bagi orang Mu’tazilah syafaat itu bertentangan dengan salah satu dari lima doktrin mereka yaitu Al-Wa’du wal-Wa’iid (janji dan ancaman).
Ayat-ayat yang menafikan secara mutlak ketiadaan syafaat yaitu: Al-Baqarah 48 dan 123, Al-An’am 51, As-Syu’ara 100 dan As-Sajdah 40.

Terus dukung petisi guru agama https://chng.it/7jH7jXNB

Hanya jika dicermati, ayat-ayat penafian tersebut adalah penjelasan Allah SWT.untuk orang-orang kafir-musyrik yang mengharapkan syafaat dari berhala yang mereka sembah (QS. Az-Zumar: 44). Contoh doa ketika orang Jahiliyah thawaf memohon syafaat dari berhala-berhala: “Demi Laata, ‘Uzza dan Manata yang ketiga. Sesungguhnya mereka adalah anak-anak perempuan yang Maha Mulia. Sesungguhnya syafaat mereka pasti diharapkan.”
Mereka distigma orang musyrik lantaran menyembah berhala (QS. Az-Zumar: 3). Jadi mustahil Allah SWT.memberikan wasilah berupa syafaat kepada berhala/benda yang dijadikan sarana kemusyrikan kepada-Nya. Karena hakikatnya, syafaat adalah “mutlak” milik Allah SWT.semuanya (QS. Az-Zumar: 44).
Kedua. Ulama Ahlussunah Wal Jama’ah (Aswaja) dan Syiah. Kedua golongan ini memiliki perbedaan prinsip. Akan tetapi keduanya berkeyakinan bahwa syafaat adalah berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah/hadits. Baik syafaat itu dari orang hidup atau orang sudah wafat bahkan juga sesuatu yang tidak bernyawa seperti iman (QS. Ali Imran: 193) dan amal salih (Bukhari 2372; Muslim 2743). Sekali lagi, meskipun semua syafaat hakikatnya milik Allah SWT.
Mereka mendasarkan pada firman Allah bahwa syafaat Allah SWT. bisa diberikan oleh orang yang telah diberi ijin oleh-Nya (QS. Al-Baqarah: 255; Yunus: 3 dan Thaha: 109). Termasuk Malaikat yang juga bisa memberi syafaat setelah mendapat ijin dari Allah SWT. (QS. An-Najm: 26).
Mereka juga meyakini bahwa orang mati syahid fi sabilillah masih hidup dan diberi rizki setelah wafatnya di alam barzah (QS. Ali Imran 169). Meskipun secara umum kehidupan barzah berbeda dengan kehidupan dunia, tetapi secara khusus ada persamaannya. Contoh hadits sahih bahkan mutawatir tentang mimpi bertemu Nabi saw. berarti bertemu sungguhan. Karena setan tidak bisa menyerupai aku (nabi). “MAN RA’AANII FIL MANAAMI FAQAD RA’AANII HAQQAN. FA INNAS-SYAITHAANA LAA YATAMATTSALU BII” (souhnoun.com; Muslim no. 4206 dll.). Pertanyaannya! Siapakah gerangan sosok yang menemui orang yang bermimpi ketemu Nabi saw.? Kalau dijawab ruh beliau, bisakah ruh dapat digambarkan sosok? Salahkah orang yang meyakini kehadiran Nabi saw.atas dasar hadits ini?
Selain itu, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani juga mengumpulkan hadits syafaat Nabi saw., yaitu: 1. Memintakan keringanan penderitaan saat di mahsyar. 2. Menolong orang mukmin keluar dari neraka. 3. Membatalkan vonis orang mukmin yang masuk neraka. 4. Memasukkan ke sorga sebagian orang mukmin tanpa hisab. 5. Meningkatkan derajat sorganya mukmin ke yang lebih tinggi (Fathul Bari, Juz II, hlm. 194). Bahkan sesama mukmin-pun kelak bisa memberi syafaat (Muslim 183).
Ketiga. Ulama Wahabi-Salafi meyakini adanya syafaat. Bedanya dengan Aswaja, kaum Wahabi-Salafi hanya meyakini syafaat dari nabi atau orang yang diminta untuk berdoa kepada Allah agar memberi syafaat tsb. Mereka menganggap musyrik orang yang meminta syafaat kepada orang atau nabi yang telah wafat. Tetapi mereka percaya bahwa iman dan amal salih bisa diminta memberi syafaat/wasilah untuk mendapatkan ampunan atau pertolongan dari Allah SWT.seperti (QS. Ali Imran: 193) dan kasus tiga orang penghuni gua (Rumaysho Com); Bukhari 2372; Muslim 2743).
Wallaahu A’lam bis-Shawaab.[]

Featured pict oleh www.bintangsyariah.com

#saveguruagama

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia