TINDAKLANJUTI PROGRAM LITERASI KITAB KUNING, AGPAII TANGSEL GELAR COACHING CLINIC

Tangerang Selatan_ Dewan Pimpinan Daerah AGPAII Kota Tangerang Selatan, Banten menggelar kegiatan bertajuk Coaching Clinic Literasi Kitab Kuning bertempat di SMPIT Insan Harapan, Setu, Sabtu (19/02/2022). Kegiatan ini diikuti oleh calon pelatih sekaligus kegiatan lanjutan setelah peluncuran yang dihelat awal Pebruari ini (baca: agpaii tangsel banten luncurkan literasi kitab kuning).

Kegiatan ini dihadiri oleh Haris Jaya Prawira, Sekdis Pendidikan Kota Tangsel, mewakili Kadisdik, Anis Anjani, MA., Pengawas PAI Gugus 4-5, Dr. Budi Mulia, M.Pd.I., Ketua DPD AGPAII Kota Tangsel dan Bp. Wahyu, Kepala SMPIT Insan Harapan selaku tuan rumah.

Sekdis Pendidikan menyampaikan sambutan

Menurut Ahmad Ansori, S.Pd.I., MA., selaku penanggung jawab program, kegiatan ini merupakan kegiatan perdana dari tiga rangkaian kegiatan lanjutan sebelum training of trainer (TOT) yang rencananya akan digelar Juni 2022 .

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyiapkan Tim yang solid  sebagai calon instruktur Literasi Kitab Kuning Volume 1,” ucap guru PAI SMPN 21 Tangsel ini.

Sementara itu dalam sambutannya, Sekdis Pendidikan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas respons ‘gercep’ alias gerak cepat AGPAII.
“Ini menunjukkan keseriusan GPAI Tangsel merspons kebijakan walikota Tangerang Selatan,” ucap Haris Jaya Prawira.

Mengamini pernyataan Sekdis, Ketua DPD AGPAII menyatakan bahwa kegiatan menunjukkan keseriusan kita untuk belajar dan bertransformasi menjadi  GPAI yang lebih baik. Bukan hanya kesempatan yang dibutuhkan, tetapi kemauan, sikap adaptif dan juga gerak cepat.
“Karenanya, kita tidak usah menunda-nunda niat baik dan tidak usah menunggu kegiatan ini diendorse dengan biaya yang besar. Semangat untuk berbuat dan bersikap cepat adalah endorcement terbaik,” tegas doktor muda jebolan UIN Jakarta ini.

Menguatkan uraian Ketua DPD AGPAII, Anis Anjani menyampaikan sikap optimistisnya.
“Saya optimis kegiatan Literasi Kitab Kuning akan berhasil. AGPAII sudah selangkah lebih maju karena langsung ‘tancap gas’ dengan menghelat kegiatan ini. Bukan hanya itu, bahkan panduan untuk TOT yang baru akan digelar bulan Junipun sudah terkodifikasi dengan baik dengan kata sambutan dari Kadisdik Kota Tangsel,” ucap Anis.

Peserta mengikuti kegiatan

Kegiatan yang diikuti 50 guru PAI TK, SD, SMP, dan SMA/SMK ini dibimbing oleh Ahmad Ansori, pakar metode Tamyiz yang juga penanggungjawab program. Materi coaching  difokuskan untuk memahami alur pembelajaran, penerapan Metode Tamyiz 1 dan Mahir Al Kitabah Wal Imla. Metode Tamyiz 1 dipilih karena berdasarkan pengalaman metode ini dinilai paling mudah dipelajari. Bukan hanya itu, metode ini tidak membutuhkan prasyarat khusus bagi pembelajarnya.
“Cukup ‘pernah kecil’ dan memiliki kemampuan membaca Alquran,” ujar Ansori. Keunggulan lain yang dimiliki metode ini adalah mudah didiseminasikan hingga yang berkesempatan belajar kali ini diharapkan mampu mendiseminasikannya kepada orang lain.

Metode Tamyiz 1 merupakan formula ‘quantum nahwu saharaf‘ yang dirancang oleh pemilik hak patennya, Zhaun Fatihin atau Abaza. Metode ini menanamkan sejak awal belajar Al Quran siswa mampu mengidentifikasi kalimat, huruf, isim, dan fi’il dalam Al Quran. Selanjutnya terampil menterjemahkan Al-Qur’an dan mampu mengajarkannya kembali.

Acara yang berlangsung sehari penuh ini berlangsung dengan baik dengan antusiasme tinggi pesertanya. Bukan hanya mudah dipelajari, proses pembelajarannya dibuat menarik dan seru. Semua peserta larut dalam suasana serba energik sepanjang kegiatan. Riuh dengan suara lantang, tak ada celah bagi mereka untuk diam dan bersikap pasif alih-alih sekedar mendengarkan ceramah nara sumber.
Sejak awal pelatihan peserta sudah disihir dengan tagline “There’s nobody Cicing, There’s nobody Ngajedog, everybody Nyaut”. Artinya tidak ada seorangpun yang boleh diam, semua harus bersuara lantang. Hal ini sesuai dengan karakter Cara Belajar Metode Tamyiz 1 yang menggunakan prinsip ‘laduni” atau ilate kudhu muni‘ (lidah/lisan harus bersuara lantang).

Semua peserta berteriak, bernyanyi bergerak, dan aktif menelaah ayat-ayat Al Quran. Pada sesi akhir pelatihan peserta mengidentifikasi keberadaan huruf dan isim dalam untaian ayat-ayat Al Quran. Untuk memantapkan materi, pelatihan tahap pertama ini akan ditindaklanjuti dengan pertemuan pekanan secara virtual sebelum kegiatan tahap kedua di bulan Maret.
Kegiatan tahap pertama ini fokus pada dua hal, yakni menghafal huruf dan artinya, serta isim berikut ciri-cirinya. Rencananya akan ada dua sampai tiga kegiatan lanjutan untuk memastikan semua peserta tidak hanya memahami tetapi terampil pula mengajarkan kembali. Di episode terakhir nantinya semua peserta akan diberikan tugas mengajar di salah satu sekolah yang akan disiapkan AGPAII.

Kegiatan coaching ditutup oleh Kasi Pakis H. Muh. Edi Suharsongko, M.Pd. (*)

 

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia