WEBSERIES 4: (3) MEMBANGUN MB DENGAN NARASI DAMAI

agpaiiweb_Pemahaman terhadap ajaran agama pada saat ini tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan teologis normative. Era digital telah menggeser pemahaman agama untuk lebih memahami kesadaran hidup berkelompok (sosiologis), kesadaran pencarian asal-usul agama (antropologis) dan pembentukan kepribadian yang kuat (psikologis).

Pada sisi lain cara beragamapun mengalami pergeseran seperti pudarnya afiliasi terhadap lembaga keagamaan, bergesernya otoritas keagamaan, individualisme semakin menguat, dan pluralisme berubah menjadi tribalisme. Sementara itu narasi dan kajian keagamaan rentan diproduksi oleh kelompok-kelompok tertentu dan disusupi kepentingan subyektif.  Demikian  Cecep Luky Heryana guru MTsN 2 Kota Bandung seraya mengutip pendapat Abdullah Amin dan Heidi Campbel pada makalahnya yang berjudul “Moderasi Beragama Lintas 5 Agama: Kontribusi Peserta Didik MTsN 2 Kota Bandung Membangun Narasi Damai di Era Digitalisasi Media”.

Menyadari hal itu Cecep dengan dukungan kepala madrasahnya serta kerjasama dengan guru mata pelajaran lainnya menggulirkan MB di sekolahnya melalui 4 langkah.

Pertama, menciptakan suasana di MTsN 2 Kota Bandung yang dapat memotivasi para guru agar terus belajar dan belajar kembali untuk meningkatkan kompetensinya menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Kedua, menciptakan lingkungan sekolah dengan pemikiran yang terbuka dan moderat dalam memahami agama.

Ketiga, mengintegrasikan nilai–nilai universal agama yang moderat yaitu tawasuth, syura, musawah, tawazun, awawiyah, islhah, tahaddur, tathawur wa ibtikar ke dalam mata pelajaran PKN dan juga rumpun Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah yaitu Fikih, SKI, Akidah Akhlak dan Al Quran Hadis dalam kegiatan pembiasaan dan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Sehinga peserta didik mempunyai pemahaman yang moderat dan juga moderat dalam menerapkan ajaran agamanya dan mampu membangun narasi damai di Era Digitalisasi Media.

Keempat, menghidupkan nilai–nilai universal moderasi agama dilingkungan MTsN 2 Kota Bandung, baik peserta didik, guru, ataupun kepala madrasah, sehingga terjadi sinergnitas di lingkungan MTsN 2 Kota Bandung sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang ramah terhadap perbedaan.

Sementara dalam tanggapannya, Agus Muhammad mengharapkan agar Cecep menjelaskan lebih detail bagaimana integrasi MB dalam kegiatan ekskul. (*)

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia