WEBSERIES 4: (1) PENDIDIKAN INTERRELIGIUS DI SMA 1 PIRI YOGYA

agpaiiweb_Praktik baik atau best practise merupakan laporan tentang apa yang sudah dilaksanakan seseorang di tempatnya terkait program yang sedang diikutinya. Kegiatan GPM menghimpun guru-guru yang tergerak untuk menjadi pelopor guru moderasi. Bukan sebatas teori melainkan dalam praktik dan kegiatan langsung. Praktik dan kegiatan inilah yang dipresentasikan oleh 10 GPM yang tampil pada Webseries 4 ini, Sabtu (25/09).

Tampil sebagai presenter pertama, Anis Farikhatin memaparkan praktik melaksanakan pendidikan interreligius (PIR) yang dilaksanakan di sekolahnya SMA 1 PIRI Yogyakarta. Melalui makalahnya yang berjudul “Pendidikan Interreligius Untuk Menghidupkan Nilai-nilai Moderasi di Sekolah (Pengalaman Guru Agama di SMA PIRI 1 Yogyakarta)”, Anis menjelaskan bahwa model PIR merupakan inisiatif bersama kominitasnya Papirus (Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligius). PIR sendiri merupakan upaya mengambil titik temu nilai-nilai kebaikan di antara agama-agama yang berbeda. Penghayatan pada nilai-nilai kebaikan ini merupakan wujud pengamalan Pancasila. Demikian papar Anis.

SMA 1 PIRI (Pendidikan Islam Republik Indonesia) Yogyakarta yang berdiri tahun 1947 merupakan lembaga pendidikan berasaskan Islam. Namun demikian sejak awal sekolah ini memproklamirkan diri sebagai sekolah yang terbuka bagi semua agama. Maka tidak heran bila sekolah ini memiliki guru dan siswa dengan beragam agama.

Implementasi PIR di SMA 1 PIRI Yogyakarta, dikutip dari makalah Anis, dituliskan 4 hal. Pertama, membangun kapasitas diri melalui seminar, dialog dan silaturahim untuk mencapai figure teladan dalam proses pembelajaran nilai. Kedua, membangun jejaring dengan berbagai instansi seperti Papirus, Interfidei, PKBI, BKKBN, KUA, Pengadilan Agama, dll dalam pelaksanaan pembelajaran nilai. Ketiga, menjalin rasa saling percaya dengan staf sekolah untuk mewujudkan pembelajaran kolaboratif melalui kebijakan sekolah, kurikulum dan finansial. Keempat, memanfaatkan budaya sekolah untuk membuka ruang dialog seperti pengajian kelas, bakti sosial, kajian keputrian, hari beasr nasional dan keagamaan.

Realisasi penerapan nilai-nilai keteladanan di sekolah dilaksukan oleh semua warga sekolah. Mulai dari jajaran pimpinan sekolah, tata uaha, guru dan seluruh siswa kemudian menjadi komitmen bersama. Selanjutnya diikat dalam kebijakan, peraturan dan proses pembelajaran sehingga mewujud dalam sikap dan perilaku warga sekolah. Tahap akhir pelaksanaan ini adalah traninteraksi dimana para pendidik hadir secara lengkap berupa apa yang disampaikan, sikap dan perilakunya sehingga pendidik menjadi figure teladan bagi siswanya.(*)

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia