WEBSERIES 5: INILAH PAPARAN 10 GPM

agpaiiweb_Sebanyak 10 GPM tampil sebagai pembahas. Mereka memaparkan praktik baik MB yang sudah dilaksanakan di sekolah maupun wilayahnya. Pemaparan yang dipandu oleh Ahmad Budiman ini dibagi menjadi 5 sesi yang masing-masing menampilkan 2 pembahas. Pada setiap sesi pembahas akan mendapat komentar dari para penanggap.

Kesepuluh GPM yang tampil adalah Marjoko Susilo (GPAI SMAN 6 Bengkulu Selatan, Bengkulu), Herimirhan (GPAI SMP Lazuardi Haura, Lampung), Tan Minggayani (GPA Khonghucu SMAN 77, Jakarta), Zuriati (GPAI SMAN 10 Bandar Lampung, Lampung), Muslikhah (GPAI SMAN 3 Cibinong, Jawa Barat), Yaya Daryana (GPAI SMKN 3 Cilegon, Banten), Nunuy Nurjanah (MAN 2 Kota Bandung, Jawa Barat), Muh. Syaipudin (GPAI SMK IT Al Izhar Pekanbaru, Riau), Fauzi (GPAI SMKN 1 Tukak Sadai, Bangka Belitung), Marcellina M. Mudjijah (GPA Kristen SMA Santo Antonius, DKI Jakarta).

Sementara penanggap yang hadir adalah Dwi Rubiyanti Kholifah (AMAN Indonesia), Huriyudin (Puslitbang Kemenag RI), Iwan Misthohizzaman (UNDP), Hamid Aniq dan Mahnan Marbawi (AGPAII).

Tampil sebagai pembahas pertama, Marjoko mengemukakan praktik baik MB di sekolahnya berupa pembagian petugas upacara bendera yang menampilkan siswa yang menganut agama yang berbeda.

Marjoko juga merencanakan untuk mengirim petugas upacara terbaik sebagai wakil sekolah pada kegiatan upacara di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Selanjutnya Hermihian menampilkan penanaman MB melalui OSIS dan pengabdian masyarakat. Sekolahnya mendukung ketua OSIS terpilih dari agama apapun. Penanaman nilai kepemimpinan moderat diterapkan melalui LDK dan infield camp sekaligus untk menumbuhkan kepekaan sosial.

Sementara itu, menanggapi kedua pembahas tersebut Rubiyanti mengapresiasi praktik baik yang telah dilaksanakan. Namun demikian penguatan kesamaan peran gender tetap harus digaungkan.

Salah satu presentasi GPM (dok)

“Di agama Khonghucu juga terdapat ajaran moderasi,” kata Tan Minggayani GPA Khunghucu SMAN 77. Ia mencontohkan misalnya pada Kitab Si Shu bagian Sabda Suci Jilid XII: 5 ke-2 “… Di empat penjuru lautan semuanya bersaudara…”

Di sekolahnya, praktik baik MB dilaksanakan setiap hari. Misalnya melalui kegiatan Kamp kebajikan, Green Peace, Kelas Guru Pancasila, Giat Literasi, selain itu juga melalui organisasi kerjasama seperti FKUB dengan doa lintas agama.

Sementara itu Zuriaty fokus pada kegiatan kepeloporan MB di sekolahnya. Selanjutnya ia menjalin kerjasama dengan lembaga lain seperti PGRI dan praktisi penulis dalam menyebarkan MB di Lampung.

Terhadap upaya Zuriaty ini, Hamid Ani selaku penanggap memberikan apresiasi.

Bersama mata pelajaran agama lain, PPKn dan TIK Muslihah menjalankan MB di sekolahnya melalui program “Membangun Jiwa dan Raga Melalui Moderasi Beragama”. MB dimasukkan ke dalam sistem kurikulum sampai implementasi di kelas.
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan misalnya membuat kata-kata bijak tentang MB, doa pagi, Jumat teduh, ibadah Natal dan ibadah Paskah bagi pemeluknya serta bantuan sosial.

Ia juga berencana menjadikan sekolahnya sebagai living model bagi duta penggerakn MB.

Sebagai sekolah yang terletak di daerah industri, Yaya Daryana melaksanakan MB melalui program afirmasi sekolah. Hal ini dilatarbelakangi pula oleh beragamnya latar belakang siswa dalam hal agama, suku dan budaya.

Melalui program afirmasi SMKN 3 Cilegon menerima beberapa siswa dari Papua. Sebagai siswa yang datang dari budaya yang berbeda, sekolah ini berupaya membuat mereka nyaman belajar. Oleh karena itu sekolah melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sekolah maupun pemerintah setempat seperti pawai budaya dan oleh raga. Bahkan siswa tersebut menjadi wakil Cilegon dalam ajang kompetisi olehraga.

Selaku penanggap, Huriyudin (Puslitbang Kemenag) memberikan apresiasi kepada dua guru tersebut.

Nunuy Nurjanah menerapkan MB di sekolahnya MAN 2 Kota Bandung yang relatif homogen muslim. Kegiatan yang dilaksanakannya adalah mengajak siswanya membuat project quotes, puisi, pantun dan film pendek bertema komitmen kebangsaan.

Ia juga akan mengajukan ke pihak sekolah untuk memasukkan program MB di dalam visi dan misi madrasahnya.

Tertarik dengan kewirausahaan, Muh. Syaipudin menerapkan MB melalui program “Mewarnai Moderasi di lingkungan Sekolah dengan Prinsip Multiple Inteligence melalui Latihan Kewirausahaan”.

Ia memandang bahwa program MB dapat dilaksanakan dengan baik bila melibatkan 4 pilar moderasi sekolah yaitu kepala sekolah, guru/tendik, siswa dan masyarakat.

Adapun kegiatan yang dilaksanakan secara harian adalah tahsin dan tahfidz, shalat dhuha, shalat dzuhur, dll.

Sementara itu, dengan bekerja sama dengan guru Kewirausahaan ia menanamkan nilai-nilai toleransi, saling menghargai dan menghindari prasangka, iri dan dengki.

Menanggapi kedua pembahas, Iwan Misthohizzaman (UNDP) meminta kedua pembahas untuk melakukan kegiatan yang lebih fokus dan menggali nilai-nilai kebersamaan dan kebaikan yang ada di semua agama.

“Melakukan kebaikan terhadap orang lain itu tidak perlu melihat latar belakang orang tersebut,” demikian kata Iwan.

Fauzi menerapkan program MB melalui kemah blok. Perkemahan ini diikuti siswa dengan tujuan merekatkan mereka sekalipun datang dari suku dan budaya yang berbeda. Diketahui siswa sekolahnya terdiri dari suku Melayu, Bugis, Jawa, SUnda dan Batak. Kegiatan selama di perkemahan misalnya dinamika kelompok, pelantikan Bantara, api unggun dan pentas budaya.

Ia berencana melakukan program tindak lanjut seperti kerjasama dengan perpustakaan dalam pembuatan quote moderasi, dan memasukkan materi moderasi pada buku Syarat Kecakapan Umum (SKU) Bantara, Laksana dan Pandega.

Bagi Marcellina, menjadi guru bukan sekedar profesi melainkan panggilan hidup. Iman bukan hanya diyakini tapi juga perlu diwujudkan.

“Sebagaimana yang kamu kehendaki dari orang lain, maka demikianlah yang harus kamu lakukan,” demikian tegas guru agama Kristen SMA Santo Antonius Jakarta ini.

Marcellina mengajak siswa-siswinya untuk berdiskusi, membuat quote, poster maupun refleksi. Disamping itu terdapat penugasan berdoa bersama keluarga di rumah dengan tema mohon agar kerukunan beragama di Indonesia tetap terjaga.

Kegiatan lainnya adalah membantu sesama. Dokumentasi doa bersama dan membantu sesama tersebut dibuat dalam bentuk foto dan video yang harus dipublikasikan di media sosial seperti Instagram dan Youtube.

Menanggapi dua GPM ini Ketua DPP AGPAII Mahnan Marbawi memberikan apresiasi positif. Bukan hanya guru tapi peran serta seluruh warga sekolah dan penkondisian dalam bentuk budaya sekolah maupun budaya kelas mutlak diperlukan. Terapkan moderasi beragama mulai dari diri sendiri kemudian tularkan kepada orang lain.

Moderasi beragama adalah bagaimana kita bersikap berdasarkan esensi agama,” demikian pungkasnya. (*)

nomortogelku.xyz
Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia