Berbagi di Bulan Rajab

Oleh Alexander Zulkarnaen*

Jumat awal Rajab ini, saya kembali diamanahi menjadi khatib di masjid dekat rumah. Ini kesempatan saya meluruskan pemahaman sebagian masyarakat di kampung terkait amalan Rajab. Untuk menjalankan amanah itu, saya perlu persiapan cukup. Mengingat khotbah Jumat dibatasi waktu, saya perlu menuliskan materi dengan padat, singkat, jelas, mengena dan mengenakkan hati. Saya ingat petuah Yunani ini : “siapa yang naik mimbar tanpa persiapan akan turun tanpa penghormatan.”

Saya mencoba memahami isi sejumlah kitab dan referensi. Ternyata, begitu banyak rahasia keistimewaan Rajab yang mungkin dilupakan banyak kalangan. Rajab tidak hanya identik dengan Isra Mikraj. Banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam terjadi di salah satu bulan Haram ini. Dari momen hijrah pertama ke Habasyah pada tahun ke-5 kenabian, momen pertemuan kali pertama Nabi dengan kaum Anshar, momen istimewa peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, pengiriman detasemen Abdullah bin Jahsy pada tahun ke-2 Hijrah yang mengawali perang badar.

Peristiwa berikut juga terjadi di bulan ini : perang Tabuk yang menggetarkan adidaya Romawi juga terjadi pada Rajab tahun ke-9 H; pembebasan Damaskus oleh panglima Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan Khalid bin Walid pada Rajab tahun ke-14 H; perang Yarmuk; pembebasan Irak di bawah panglima Khalid bin Walid ra; perebutan kembali Baitul Maqdis oleh Shalahuddin Al Ayyubi setelah 88 tahun diduduki tentara salib juga pada Rajab tahun 583 H; runtuhnya Khilafah Turki Ustmani pada Rajab 1342 H. Informasi itu tertera dalam kitab Ibnu Katsir, Al-Bidayahwa an-Nihayah dan Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah.

Di Indonesia, masyarakat muslim mengagungkan keistimewaan Rajab dengan beragam amalan dan tradisi. Mereka berusaha menjalankan pesan para Ulama memperbanyak amalan di bulan ini karena pahala yang dilipatgandakan. Saya masih ingat tradisi berbuka puasa Rajab dengan bubur pedas, meski lebih populer pada saat Ramadan. Warga kampung kami rutin berbagi kuliner warisan Kesultanan Deli ini saat berbuka. “Simbol persatuan warga,” kata mamak.

 Tradisi Jaro Rajab di desa Cikakak,Kec. Wangon, Kab. Banyumas (Jateng),
mengganti pagar bambu di sekeliling masjid Saka Tunggal setiap bulan Rajab (SatelitPos)

Sayangnya, belakangan sebagian orang mempersoalkan tradisi mempererat silaturahim ini. “Tak berdalil,” kata mereka. Belum lagi tuduhan bid’ah membabi buta kerap mengguncang keyakinan masyarakat awam. Tak jarang saya meluruskan pandangan itu. Tradisi puasa Rajab dan semangat berbagi punya banyak manfaat dan makin terasa di masa pandemi.

Bukankah sebagian saudara kita terpukul dan sulit bertahan di masa pandemi ini? Penghasilan harian mereka sangat mengkhawatirkan. Bahkan, makanan menjadi kebutuhan hidup yang diperjuangkan. Tidak sedikit akhirnya menyerah, tak tahu harus berbuat apa. Inilah saatnya kita yang berkelebihan dituntut peduli. Sentuhan hati untuk berempati sangat dinanti saudara yang terdampak pandemi. Uluran tangan sangat diharapkan demi meringankan beban mereka. Setidaknya, memastikan mereka tetap makan di tengah ketidakpastian.

Setelah merenung dan membaca lagi perdebatan seputar amalan Rajab, saya menemukan ide untuk mengangkat tema tradisi Rajab dan nilai berbagi untuk sesama. Ini tema yang tepat saat warga di kampung saya ditimpa Pandemi. Saya berharap khotbah Jumat pekan ini menggugah hati jamaah untuk tetap dalam semangat fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan.

*Guru PAI SMAN 2 MEDAN
Peserta Workshop Kepenulisan AGPAII Desantara

Featured image disediakan oleh bimbinganislam.com

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia