Bu Guru Ini Tempuh Puluhan Kilometer Menuju Tempat Pelatihan

Anyer_Pelatihan Kompetensi Guru PAI Dalam Menguatkan Moderasi Beragama di Sekolah bagi guru SMA/SMK provinsi Banten Jumat-Ahad (3-5/06) yang lalu menyisakan cerita perjuangan.  Dari segi topografi, provinsi yang berada di bagian barat pulau Jawa ini  memiliki wilayah yang cukup luas dengan kota-kota yang terpencar. Beberapa wilayah terdapat di pegunungan, dataran rendah dan pantai. Banten juga memiliki beberapa destinasi wisata seperti cagar budaya Suku Baduy, Banten Lama bekas kedudukan Kesultanan Banten dan banyak tempat wisata pantai dan laut.

Luasnya wilayah juga menyebabkan letak sekolah yang tersebar. Meski berada dekat dengan ibukota negara  guru-guru belum mendapat kesempatan mengikuti pelatihan dengan merata dan teratur. Meskipun di daerah perkotaan mereka harus menanti “keberuntungan” mengikuti pelatihan karena berbagai hal.

Adalah Desy Megasari, seorang guru PAI honorer di SMAN 3 Kota Serang sejak 2013. Sebagai seorang guru yang setiap hari menjalankan tugasnya, ia membutuhkan penyegaran dan tambahan ilmu baru. Beberapa pelatihan seperti Pembatik dan character building pernah ia ikuti di sekolahnya. Namun pelatihan khusus bagi guru PAI yang diselenggarakan oleh Kemenag hanya lewat di depan hidungnya karena beberapa kali diprioritaskan untuk guru ASN. Tinggallah kerinduan untuk mengecap pelatihan khusus guru PAI yang tertinggal dan semakin bertumpuk.

Desy dan Hera saat menempuh perjalanan (dok)

Pada akhir Mei 2022 melalui WA grup MGMP ia mendapat informasi pelatihan yang diselenggarakan AGPAII dan INFID tersebut. Sedikit ada rasa pesimis karena, lagi-lagi, timbul perasaan pelatihan diprioritaskan untuk ASN. Melalui japri ia menanyakan kepada ketua MGMP tentang hal itu, ternyata honorerpun diperbolehkan. Akhirnya ia mengajukan diri untuk didaftarkan. Namun harapannya kembali terancam pupus karena ada kabar kuota telah terpenuhi. Ketua MGMPnya memberi waktu 1×24 jam barangkali ada peserta yang mengundurkan diri. Iapun kembali menjapri pak ketua menanyakan kepastian. Kesempatan tidak mesti datang dua kali maka harus dikejar, begitu pikirnya. Jawaban menggembirakanpun datang ketika pak ketua mengabarkan bahwa wilayahnya mendapat limpahan kelebihan kuota dari daerah lain sehingga namanyapun berhasil masuk menjadi peserta.

Tahap berikutnya ia harus mengkondisikan keluarga. Sebenarnya yang paling berat bagi Desy bila mengikuti pelatihan adalah ia harus meninggalkan anaknya yang baru berusia 10 bulan. Sungguh tantangan yang berat. Selama masa menyusui bayinya tidak pernah ditinggal kecuali jika mengajar, sementara keinginannya untuk meningkatkan kompetensi membuncah didadanya. Ketika ia tanyakan kepada suaminya, sang suami mengembalikan pada kesiapan dirinya. Ia sangat bersyukur karena suaminya mengizinkan. Pak suami juga menyarankan untuk sementara sang bayi tinggal bersama neneknya di Pandeglang karena ia juga bekerja. Setali tiga uang, sang nenekpun bersedia sementara waktu mengasuh cucunya. Jadilah Desy mengikuti pelatihan walaupun harus berangkat dari rumah orangtuanya di Pandeglang, bukan dari Serang tempat tinggalnya.

Persiapan selanjutnya masalah transportasi. Untuk menuju tempat pelatihan dapat ditempuh melalui beberapa moda transportasi. Bila naik kendaraan umum dipastikan memakan waktu yang lama dan jarak tempuh yang cukup jauh serta melelahkan. Ia harus berangkat dari Pandeglang menggunakan bus menuju terminal Serang, disambung lagi dengan bus menuju Cilegon. Dari Cilegon ditempuh menggunakan kendaraan minicub (angkot) menuju Anyer. Waktu tempuh diperkirakan 3-4 jam. Dengan pertimbangan itu, Desy memutuskan untuk mengendarai sepeda motor. Kebetulan ada sesama peserta dari Kota Serang, Hera Mulyawati guru PAI SMAN 7 Kota Serang yang mau diajak berboncengan berkendara motor.

Jumat pagi Desy berangkat dari Pandeglang menuju Palima Serang sejauh 19 km untuk bertemu Hera. Selanjutnya menempuh perjalanan menuju Allisa Resort, Anyer. Meskipun jauh perjalanan mereka anggap berpesiar, dibawa enjoy, begitu katanya. Sekalipun demikian mereka berusaha untuk sampai di tempat tujuan sebelum shalat Jumat seperti yang diumumkann panitia melalui WA grup.

Rute perjalanan Pandeglang menuju Allisa Resort (dok)

Mereka tancap gas pukul 09.30 dari Palima tempat mereka berdua bertemu. Jalan beraspal cukup baik dan relatif sepi membuat perjalanan terasa nyaman. Belum lagi pepohonan yang hijau di kiri-kanan jalan serta pemandangan yang menyejukkan mata membuat perjalanan benar-benar enjoy trip. Pada etape pertama mereka menyusur jalan raya Palka dari Palima menuju Pabuaran. Selanjutnya berbelok kekanan menuju Mancak. Di rute ini terdapat suguhan pemandangan hamparan sawah dan Rawa Danau yang indah.  Etape terakhir menuju Allisa Resort. Mengejar waktu yang kian mendesak mereka tidak turun secara khusus untuk sekedar istirahat. Mereka berhenti saat membeli minuman dan menambah angin ban motor. Sangat sebentar. Sekira pukul 11.30 mereka sampai di tempat pelatihan setelah menempuh jarak sekitar 58 km. Lega rasanya sampai di tempat sesuai rencana.

Merekapun segera registrasi dan beristirahat. Lokasi pelatihan yang berada di pantai menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Mega memanfaatkan betul kegiatan berharga ini. Dengan kesungguhan ia mengikuti pelatihan hingga akhir.

Tibalah saat akhir pelatihan, ia harus berpisah dengan teman sejawat dari berbagai wilayah di provinsi Banten. Tali silaturahmi terjalin dengan teman-teman baru baik sesama peserta maupun dengan panitia. Iapun bersama Hera kembali menyusuri rute yang sama. Setelah beristirahat sejenak sekaligus mengantar Hera ke rumahnya, Megapun meneruskan perjalanan pulang menuju Pandeglang. Hujanpun menghadangnya, namun kerinduan terhadap buah hatinya membuatnya tancap gas.

Saat perjumpaan dengan sang buah hatipun tiba. Mega kaget karena si buah hati tampak canggung saat ia menggendongnya. Rupanya perpisahan selama tiga hari membuat si buah hati merasa asing terhadap ibunya.

Keikutsertaannya di pelatihan ini membuat Mega memiliki semangat baru. Demikian ia sampaikan melalui wawancara tertulis. Diluar jam pelatihan ia dan teman-teman dari wilayahnya terutama sesama guru honorer menyusun rencana baru untuk bersama-sama berperan meningkatkan kompetensi teman sejawatnya melalui AGPAII setempat.
“Kami mengadakan ‘kongres kasur panjang’ bukan lagi ‘meja bundar’ karena rapat dilaksanakan di kamar saat istirahat malam,” demikian ujarnya. Kami benar-benar mendapat energi baru apalagi setelah mendapat predikat sebagai Guru Muharrik. Panitia, narasumber, fasilitator dan moderator berhasil membuat kami mendapat tambahan ilmu dan kompetensi, demikian imbuhnya.

“Saya dan teman-teman akan berjuang untuk (guru) honorer GPAI kedepan agar bisa aktif dan bergerak. Pada prinsipnya guru PAI memang harus selalu ikhlas dlm setiap kondisi,  banyak bersabar dan belajar. Jangan banyak menuntut tetapi tunaikan kewajiban dengan baik. Jika memang ada kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi mengapa kita tidak bergerak agar selangkah lebih maju dari yang lain,” demikian tulis Mega mengakhiri ceritanya.[]

Guru Muharrik….
Saya pikir…
saya yakin…
saya bisa!

 

#saveguruagamaindonesia

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia