Fenomena Belanja antara Kebutuhan, Gaya Hidup dan Ketidakmampuan

Oleh : Beni Nur Cahyadi , S.Pd.I.,M.Pd.,M.H. (Wakil Ketua DPD AGPAII Kab Wonogiri)

Ribuan pengunjung mulai memadati pusat perbelanjaan tekstil terbesar di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Ahad (24/04/2022). Warga yang didominasi para wanita itu mendatangi pusat penjualan pakaian terbesar se-Asia Tenggara itu untuk berbelanja busana muslim menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 H. Ramadan menjadi bulan pembersihan dan peningkatan kualitas diri dan diakhiri dengan berbelanja. Aktivitas belanja menjadi hal yang dianggap penting bagi sebagian orang selama Ramadan. Tidak seperti sebelumnya, kini trend belanja online diperkirakan akan meningkat, jelang Ramadan hingga Lebaran 2022 di Indonesia. Peningkatan terjadi karena adanya pandemi Covid-19.

Hal tersebut terungkap dari sebuah survei online yang dilakukan SurveySensum terhadap 1.500 responden di kawasan Jabodetabek, Surabaya, Medan, dan Bandung yang dilaksanakan pada 25 Februari–5 Maret 2022. Mereka berusia 18- 55 tahun, terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan status ekonomi rendah, menengah, dan tinggi.

CEO SurveySensum Rajiv Lamba dalam konferensi pers mengenai hasil surveinya, Selasa, 15 Maret 2022 menyampaikan masyarakat Indonesia akan meningkatkan anggaran untuk kebutuhan berbelanja jelang Ramadan dan Lebaran. Kenaikan ini berkisar 10 persen dari Ramadan dan Lebaran tahun sebelumnya.  Sebanyak 82 persen responden akan membelanjakan uangnya untuk Idulfitri. Sebesar 74 persen responden akan membelanjakan uangnya untuk donasi lewat platform sosial.

Sementara itu, responden akan membelanjakan uangnya untuk membeli baju pakaian baru sebanyak 71 persen. Sebanyak 63 persen mereka akan bertemu dengan keluarga dan teman-teman dan sebesar 59 persen akan memberikan hadiah untuk keluarga dan teman.Sebelum Ramadan merupakan waktu utama untuk belanja kebutuhan Ramadan. Sebanyak 43 persen responden memilih berbelanja sebulan sebelum Ramadan. Sebanyak 17 persen memilih berbelanja setelah mendapatkan bonus atau Tunjangan Hari Raya (THR). Sementara 15 persen responden memilih berbelanja selama bulan Ramadan.

Dari banyaknya jumlah konsumen tersebut, pembelian boros dan belanja online ekstrem dapat menjadi masalah bagi sebagian orang. Gangguan pembelian kompulsif atau biasa akrab disebut “gangguan belanja” ialah kondisi kesehatan mental yang mempengaruhi sekitar 5% dari populasi, menurut sebuah studi 2016. Profesor psikologi di Hannover Medical School di Jerman Astrid Muller menjelaskan hal itu (seorang yang mengidap Shopaholic) dapat ditandai dengan keasyikan ekstrem yang dirasakan penderita serta rasa keinginan untuk membeli dan berbelanja, juga keinginan yang tak tertahankan dan pencarian identitas untuk memiliki barang-barang konsumen.

Gaya hidup hedonisme yang melambangkan gaya hidup konsumtif dan boros. Gaya hidup seperti ini bisa dibilang cukup melekat pada sebagian besar orang yang hidup di kota besar.Pada dasarnya, manusia memang merupakan makhluk yang secara naluriah ingin menghindari rasa sakit dan penderitaan. Akan tetapi, terkadang naluri ini justru menjebak banyak orang dalam gaya hidup hedonisme.Dengan munculnya beragam aktivitas dan sarana entertainment, saat ini gaya hidup hedonisme adalah salah satu masalah umum yang muncul di masyarakat.

Pemaparan di atas berbanding terbalik dengan apa yang di alami istri Khalifah Ali bin Abi Thalib, Sayyidah Fatimah  Datangnya Hari Raya Idul Fitri, seolah sudah sepaket dengan tradisi mengenakan busana terbaru untuk memberikan penampilan terbaik di hari kemenangan. Hingga kini tradisi ini masih berlaku, terutama bagi anak-anak.

Namun tahukah Anda bahwasanya dahulu kala putri Nabi Muhammad SAW, yakni Sayyidah Fatimah sempat bersedih karena tidak bisa membelikan busana baru untuk Lebaran bagi kedua putra tercintanya, yakni Hasan bin Ali dan Husain bin Ali.

Cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husein, tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang. Riwayat yang memilukan ini dinarasikan oleh Ibnu Syahr Asyub dari Al-Ridha dan dinukil oleh Hakim al-Naisaburi dalam kitabnya Al-Amali. Malam hari raya tiba, sementara pakaian baru belum juga terlihat sehingga dua pemimpin pemuda surga itu bertanya lagi kepada ibunya. Sayyidah Fatimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu.  Tidak lama kemudian, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Sayyidah Fatimah menghampiri seraya bertanya, “Siapa?””Wahai putri Rasulullah, saya adalah tukang jahit. Saya datang membawa hadiah pakaian untuk kedua putramu.” Pintu dibuka dan tampaklah seseorang membawa bingkisan lalu diberikan kepada Sayyidah Fatimah. Beliau membuka bingkisan tersebut dan di dalamnya terdapat dua gamis, dua celana, dua mantel, dua sorban, dan dua pasang sepatu hitam yang semuanya terlihat indah. Lalu Sayyidah Fatimah memanggil kedua putra kesayangannya dan memakaikan mereka busana indah hadiah tersebut.

Lalu Rasulullah bertanya kepada Sayyidah Fatimah, “Apakah engkau melihat sang tukang jahit tersebut?” Sayyidah Fatimah menjawab, “Iya, aku melihatnya Lalu Rasulullah menjelaskan, “Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan sang penjaga surga.”

Dari kisah ini, kita mendapat pelajaran berharga bahwa betapa keluarga seorang Rasul pilihan terbaik di muka bumi sekalipun, masih sulit merasakan kebahagiaan berlebaran dengan pakaian serba baru. Sekiranya Rasulullah berdoa meminta kekayaan, Malaikat Jibril pun menawarkan gunung Uhud menjadi emas, namun Rasulullah menolaknya. Beliau lebih memilih zuhud di dunia bagi dirinya dan keluarganya, sebab beliau mengetahui bahwa kehidupan di dunia kenikmatannya hanya bersifat sementara. Sementara kehidupan akhirat lebih kekal abadi selamanya.

Semoga kita tidak terlalu bersedih hanya lantaran tidak memiliki sesuatu yang bisa dikenakan baru di hari lebaran. Sebab hari raya yang sesungguhnya, bukanlah pakaian yang serba baru, melainkan kembalinya pada fitrah atau kesucian diri hakiki.[]

Featured image disediakan oleh : bisnis.tempo.co

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia