PELAJARAN DARI 5 PERISTIWA PENTING YANG TERJADI PADA RAMADHAN

Al-Quran merupakan bacaan sempurna dan mulia. Foto/Ilustrasi: SINDOnews

Oleh: Miswan

Di dalam al-Qur‟an kata qishash diungkapkan sebanyak dua puluh enam kali dalam berbagai bentuk, baik fi‟il madli, mudhari‟, amar, maupun mashdar yang tersebar dalam berbagai ayat dan surat. Penggunaan kata yang berulang kali ini memberikan isyarat akan urgensinya bagi umat manusia. Bahkan salah satu surat Al-Qur‟an dinamakan surat al-Qashash yang artinya kisah-kisah.

Bahwa kisah-kisah yang ditampilkan al-Qur‟an adalah agar dapat dijadikan pelajaran dan sekaligus sebagai petunjuk yang berguna bagi setiap orang beriman dan bertaqwa dalam rangka memenuhi tujuan diciptakannya yaitu sebagai abdi dan khalifah pemakmur bumi dan isinya. Serta memberikan pengertian tentang sesuatu yang terjadi dengan sebenarnya agar dijadikan ibrah (pelajaran) untuk memperkokoh keimanan dan membimbing ke arah perbuatan yang baik dan benar

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan sejarah (qishash), yang cukup fundamental, diataranya minimal ada 5 peristiwa yang penting yang terjadi dibulan Ramdhan. Peristiwa ini bahkan menjadi tonggak tegakknya risalah Islam dan  penuh dengah hamparan hikmah.  Diantaranya adalah:

Pertama, Perang Badar.

Perang Badar adalah salah satu perang terbesar yang umat muslim di zaman Rasulullah SAW. Perang Badar terjadi di bulan suci Ramadhan yang mana seluruh umat muslim juga menjalankan ibadah puasa. Peristiwa ini setidaknya dapat Umat Islam rasakan bersama bagaimana melakukan peperangan dalam bulan Ramadhan, dalam kondisi lapar haus dan dahaga secara fisik pasti secara akal akan menyatakan berat dan susah, belum lagi lawan jumlahnya lebih banyak. Inilah merupakan kemenangan besar pertama umat Islam dalam menentang kebatilan dan kemusyrikan.

Dalam perang ini, Rasulullah SAW memimpin pasukan muslim dengan jumlah 313 orang, 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta dan 2 ekor kuda. Sedangkan kaum Quraisy 1000 orang, 600 senjata lengkap, 700 unta dan 300 kuda. Melalui semangat jihad, pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan Quraisy hingga menewaskan 3 pemimpin kaum Quraisy yakni Utbah, Syaibah dan Walid bin Utbah.

Peristiwa Perang Badar ini telah dijelaskan dalam Al Quran pada surat Ali Imran ayat 123-126 yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah telah menolongmu dalam peperangan Badar. Padahal, kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin ‘Apakah tidak cukup bagimu Allah membantumu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?. Ya (cukup). Jika kamu bersabar dan siap siaga, lalu mereka datang menyerangmu dengan seketika, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa”. (QS. Ali Imran: 123-126)

“Ini patut jadi renungan mendalam bagi ummat Islam, bahwa perjuangan melawan kezaliman dan ketidakadilan tak terhalang oleh kondisi fisik. Justru semangat dan kekuatan para mujahid sejati bukan lahir dari kekuatan fisiknya, melain taqarrub (kedekatan) seorang hamba pada Allah (taqwa) yang melahirkan kekuatan yang sesungguhnya.

Jika api jihad sudah membara dalam jiwa seorang mukmin, maka iya tak lagi peduli pada kondisi fisiknya. Maka menguatkan mental spiritual adalah hal yang mutlak dilakoni insan beriman yang berpuasa.

Kedua, Fathu Makkah atau penaklukkan Makkah.

Fathu Makkah merupakan peristiwa besar yang terjadi di zaman Rasulullah SAW. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah berkembangnya Islam sampai saat ini. Peristiwa Fathu Makkah terjadi pada 17 Ramadhan tahun 8 Hijriyah. Kemenangan mutlak didapatkan kaum Muslimin dengan merebut kembali Mekkah. Peristiwa ini adalah efek dari ingkarnya kaum kafir Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah yang disepakati bersama Rasulullah SAW. Peristiwa ini mengajarkan hasil dari sebuah kesabaran, di mana bagi sahabat Rasulullah perjanjian ini sangat berat bagi kaum Muslimin.

“Namun Rasulullah SAW sangat amat memahani karakter dan sifat kaum kafir yang mudah melanggar janji,”

Nabi hanya membutuhkan kesabaran, sebagaimana yang diajarkan dalam ibadah puasa, yang menghimpun tiga kesabaran sekaligus, yaitu sabar dalam mentaati Allah SWT, sabar dalam menghadapi rasa lapar dan sabar terhadap takdir puasa yang diwajibkan bagi umat Islam.

Ketiga, Wafatnya insan-insan terkasih Rasulullah SAW,

Bertepatan hari ke-11 Ramadhan mengingatkan kita satu peristiwa penting yang membuat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersedih. Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha, istri tercinta Nabi wafat pada hari ke-11 bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian. Sayyidah Khadijah wafat di usia 65 tahun, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah.

Sayyidah Khadijah Al-Kubra adalah sosok paling berharga bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Sepanjang hidupnya beliau mengorbankan seluruh hartanya untuk perjuangan menegakkan risalah Islam yang diemban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam Kitab Al-Busyro yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani (ulama besar Makkah) diceritakan, ketika Sayyidah Khadijah sakit menjelang ajalnya di usia 65 tahun, beliau berkata kepada Rasulullah. “Aku memohon maaf kepadamu Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”

Kemudian Sayyidah Khadijah memanggil putrinya Fathimah Azzahra dan berbisik: “Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.”

Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”

Ummul mukminin, Sayyidah Khadijah pun mengembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Rasulullah. Beliau mendekap tubuh Sayyidah Khadijah dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Air mata Nabi yang mulia pun tumpah dan semua orang yang ada di situ.

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya, “Untuk siapa kain kafan itu wahai Jibril? Jibril berkata: “Kain kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fathimah, Ali dan Hasan. Tiba-tiba Jibril berhenti berbicara lalu Rasulullah bertanya: “Kenapa wahai Jibril?” “Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dipenggal dan gugur syahid tanpa kafan dan tak dimandikan,” kata Jibril.

Dalam suasana duka itu, Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah yang mulia. “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu engkau infaqkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?”

Malailkat Jibril berkata kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, itulah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan dari aku, dan beritahukan kepadanya tentang (balasan) sebuah rumah di surga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).

Selain kisah wafatnya seperti istri tercinta Khadijah al Kubro ra, Rosulullah Saw  ditinggalkan orang yang tercinta yaitu   Fatimah al Zahrah ra, dan Ruqayyah ra. Semua ini adalah ujian kesabaran, di mana setiap Muslim harus ikhlas dalam menjalani ujian yang merupakan syarat utama kemuliaan yang harus dijalani seorang hamba.

Keempat, Nuzul Alquran.

Gambar dari: kalam.sindonews.com

Peristiwa ini adalah peristiwa hebat yang juga terjadi pada Ramadhan. Setidaknya peristiwa ini menunjukkan bahwa tidak ada amal terbaik di bulan Ramadhan kecuali mengkhatamkan Alquran, bahkan para alim ulama mazahib menghentikan sementara majelis ilmunya untuk mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadhan. “Setidaknya malam nuzul Alquran patut dijadikan spirit untuk gemar mengkhatamkan Alquran untuk meraih gelar ‘al hal wa al murtahal’ yaitu gelar yang disematkan Rasulullah saw pada mereka yang senantiasa gemar mengkhatamkan Alquran dari Al-Fatihah sampai An-Naas.

Kelima, Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar, Malam Penetapan Takdir (Ilustrasi freepik.com)

Peristiwa ini adalah malam yang terbaik dari semua malam, karena malam ini menjadi malam diturunkannya Alquran. Setidaknya perebutan malam ini menjadi cita-cita besar bagi setiap pelaku siyam. Karena malam ini memiliki keistimewaan dibanding dengan malam malam lainnya yang hanya terjadi pada Ramadhan,  yaitu lebih baik dari 1000 bulan.

Untuk itu, setiap insan muttaqin berusahalah mengapai malam lailatul qodar di akhir bulan Ramadhan, setidaknya di sepuluh terakhir Ramadhan ibadah kita bukan tambah turun tapi harus meningkat ibadahnya, artinya janganlah kesempatan emas ini kita lewatkan, maka marilah kita melakukan muhasabah diri, tafakkur dan renungan atas semua khilaf dan dosa yang selama ini dilakukan.

Dan akhirnya dari peristiwa-peristiwa besar diatas adalah bisa kita jadikan momentum untuk meningkatkan ibadah kita di bulan Ramadan. Untuk itu umat luruskan niat menambah iman dan takwa. “Semoga lima peristiwa besar Ramadhan ini dapat menjadi inspirasi nurani, motivasi jiwa dan semangat meraih kemenangan sejati. Amin Ya Robbal ‘alamiin.

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia